Antara Banten Girang dan Pulosari ( Edisi 1)

0
81
Foto : tuntasmedia.com

Antara Banten Girang dan Pulosari ( Edisi 1)

Mulai dari Karya Wangsakerta

BERDIRINYA Provinsi Banten pada tahun 2000 sebagai hasil pemekaran dari Provinsi Jawa Barat telah memberikan kegairahan baru bagi masyarakat Banten. Dalam upaya percepatan pembangunan daerah otonom baru ini, beberapa kelompok intelektual muda melakukan berbagai kegiatan riset untuk menemukan kembali identitas budaya. Sejalan dengan usaha itu, hasil-hasil penelitian arkeologi yang sebelumnya kurang mendapat perhatian publik, juga dijadikan acuan gerakan pengkajian budaya Banten sebagai langkah mendasar untuk mengangkat kembali pentingnya kemajuan-kemajuan peradaban yang pernah dicapai beberapa abad lampau.

Semangat pengkajian budaya itu sudah tentu harus dipandang sebagai bentuk partisipasi cendikiawan lokal dalam mendukung terlaksananya otonomi kebudayaan di daerah Banten. Hal itu bisa dilihat dari kecenderungan pemilihan ranah penelitian, pada mana daerah-daerah yang sebelumnya dipandang ‘periferik’ mulai diangkat ke permukaan. Lebih mengesankan lagi, karena daerah belakang itu tampaknya menjadi titik berangkat bagi rekonstruksi sejarah awal (the early history) dan perkembangan kebudayaan daerah. Maka, jika pilihan tema riset itu menjadi trend akademik dari lembaga penelitian di perguruan tinggi atau lembaga riset lain, ada harapan semakin beragamnya unsur-unsur budaya lokal yang akan diperhitungkan dan dijadikan referensi penguatan identitas budaya Banten.

Namun, tampaknya masih ada beberapa kelemahan mendasar yang perlu digarisbawahi dalam kajian-kajian ilmu budaya. Titik kritiknya berpangkal pada subyektivitas tematik yang mengesankan kepada kita sebagai ikhtiar yang tergesa-gesa. Kecenderungan itu disebabkan adanya upaya mengimbangi percepatan terbentuknya kesatuan politik administratif Banten dari kemajuan yang telah dicapai oleh daerah lain.

Pada tingkat wacana kedaerahan, bisa diamati bahwa budaya Banten sepertinya ingin ditampilkan sebagai sesuatu yang lebih ke ‘closed culture’ jika tak bisa disebut primordial. Padahal, jika melihat perjalanan sejarah Banten yang panjang, tampaknya hal itu kontradiktif dengan tesis bahwa Banten sejak abad X (mungkin jauh lebih ke belakang) telah menjadi salah satu melting-pot berbagai kelompok etnik dan ras dengan unsur budaya masing-masing: agama, ideologi, bahasa dan unsur-unsur budaya warisan lainnya. Oleh karena itu, gerakan intelektual tersebut berpotensi mendorong munculnya sentimen etnik yang sempit dalam tatanan kehidupan negara-bangsa yang multi-etnik dan multi-kultural.

Dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa kelangkaan sumber sejarahlah yang menyebabkan semua kesulitan memformulasikan identitas kolektif itu. Akibatnya, ketika berbagai hasil kajian sejarah belum mendapat legitimasi ilmiah, beberapa kelompok peneliti telah mentransformasikan hasil studinya ke dalam bentuk praksis. Kasus yang bisa diangkat dalam persoalan ini dapat dimulai dari terbitnya buku karangan Yoseph Iskandar dkk (2001) dengan judul “Sejarah Banten dari masa nirleka (prasejarah) hingga akhir masa kejayaan Kesultanan Banten (abad ke-17)”.

Dengan tidak mengurangi penghargaan atas usaha positif para penulis dan dewan pakar buku ini, bisa dikatakan bahwa nasib sejarah Banten sementara ini ‘terpaksa’ harus ditentukan oleh sumber tekstual asal Cirebon. Ada kesan bahwa apresiasi terhadap ‘mahakarya’ Pangeran Wangsakerta yang pernah menjadi bahan perdebatan di antara ahli sejarah di Jawa Barat dan Jakarta, telah menyebabkan “Sejarah Banten” yang mencakup zaman prasejarah itu direkonstruksi begitu mudah.

Ditulis oleh : Moh Ali Fadillah

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here