Menemukan Kembali Masa Keemasan Banten (Edisi 3)

0
65

Menemukan Kembali Masa Keemasan Banten (Edisi 3)

Berdirinya kerajaan maritim

Awal abad XVI merupakan periode pertumbuhan kerajaan-kerajaan niaga di pesisir utara Jawa di bawah kuasa pemerintahan Islam. Pengaruh perkembangan agama Islam yang mendorong kemajuan di bidang perdagangan harus dicatat sebagai lahirnya sebuah new era, yang juga membawa perubahan besar sampai ke daerah Banten.

Perkembangan kerajaan Islam di satu sisi dan kemuduran kerajaan Hindu di sisi lain harus dicatat sebagai peristiwa paling fenomenal pada masa itu, di mana daerah Banten pun mengalami mutasi struktural baik di bidang sosial politik maupun ekonomi perdagangan.

Redupnya pengaruh kekuasaan Pajajaran di daerah Banten telah memudahkan para saudagar muslim membangun basis perdagangan di pelabuhan Banten, sebagai bagian tidak terpisahkan dari mata rantai perdagangan pesisir utara Jawa, sejauh Demak di bagian timur, Jepara, Cirebon dan Banten di ujung barat Pulau Jawa.

Dalam konteks kelahiran “zaman baru” itulah Kesultanan Banten didirikan pada sekitar tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Wali Songo yang terkenal sebagai penyebar agama Islam pertama di Pulau Jawa. Bersama puteranya, Maulana Hasanuddin, pusat kerajaan Islam kemudian didirikan di delta sungai Cibanten, menandai peralihan kekuasaan dari Banten Girang ke Banten Hilir.

Pendirian ibukota Banten di delta Cibanten ditandai dengan pembangunan keraton Surasowan yang dikelilingi kanal dari berbagai arah. Kanal-kanal itu selain berfungsi sebagai jaringan irigasi juga menjadi jalur transportasi ke dan dari dua pelabuhan utama Banten. Pelabuhan pertama dikenal dengan nama Pabean sedangkan pelabuhan kedua berada di Karangantu.
Terletak di sebelah barat kota Banten, Pabean diperuntukkan bagi kapal-kapal asing terutama dari Cina, India, Timur Tengah dan Eropa, tempat di mana syahbandar Banten memungut bea cukai. Di sini pula kantor dagang dari berbagai bangsa berdiri, memainkan peran signifikan bagi Banten sebagai pusat perdagangan, terutama lada. Sedangkan pelabuhan Karangantu terletak di sebelah timur yang khusus dipergunakan untuk singgah kapal-kapal dari kepulauan Nusantara.

Struktur fisik kota menunjukkan rancang bangun kota air (aquatic city) yang bernuansa Islam, karena poros kota terletak pada masjid kerajaan dan keraton sekitar alun-alun kota dalam jaringan kanal yang satu dan lainnya saling berhubungan. Di kota Banten inilah Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan kepada Maulana Hasanuddin, sebelum kembali ke Cirebon hingga wafatnya di Gunung Jati. Setelah dinikahkan dengan salah seorang puteri Sultan Trenggana, pada tahun 1552 Hasanuddin dinobatkan menjadi raja Banten pertama. Selain membangun keraton, Hasanuddin juga membangun dua buah masjid di kota Banten. Mesjid pertama didirikan di sebelah barat alun-alun kota Banten, berdekatan dengan keraton, yang sekarang disebut Masjid Agung Banten. Sedangkan masjid kedua dibangun di kampung Pacinan, tempat bermukimnya penduduk keturunan Cina yang beragama Islam.

Written by Moh Ali Fadillah

Baca Juga : Menemukan Kembali Masa Keemasan Banten (Jilid 2)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here