SAAT cinta hadir dalam diri, setiap tingkah laku pecinta akan penuh dengan kasih dan sayang. Pecinta tak pernah menghiasi hari-harinya dengan kebencian. Maka, Hijrah Cinta pun mestinya menjadi keharusan, mentransformasi diri dari tingkah laku negatif menuju laku serba-kebaikan.

Hijrah menjadi fenomena anak millenial pada dua tahun terakhir. Ada banyak anak-anak muda yang menekadkan diri untuk hijrah namun dengan rasa takut, atau cemas akan siksaan Allah. Hijrah dengan kecemasan akan menghasilkan perilaku yang kaku, tak nyaman, dan berujung pada klaim merasa paling benar seraya menyalahkan pihak lain.

“Hijrah tentu saja positif, namun tanpa cinta hijrah akan menjadi trasnformasi yang menyakitkan,” ungkap Kepala Madrasah Rumi, Bambang Q Anees di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten, Jumat (24/05/2019) lalu.

Acara digelar sederhana dengan kudapan kopi dan teh namun tema yang dihadirkan tak sesederhana orang-orang yang melihat dari kejauhan. Temanya Cinta, namun di tangan Bambang Q Anees (BQ), cinta menjadi luhur, agung, tidak picisan seperti cintanya remaja zaman now.

Sesekali dentingan gitar dan nyanyian Yayan Katho, Seniman Bandung, Pusi-puisi Toto ST Radik, sastrawan Kota Serang, menyelingi ceramah BQ. Acara semakin riuh, BQ tak menjadikan dirinya one man show, namun mengajak peserta yang hadir untuk bernyanyi dan bertepuk tangan. Malam semakin riuh, penuh cinta dan kasih sayang.

Cinta, menurut BQ, dimiliki dan dialami semua manusia, minimal cinta kepada kedua orangtuanya. Cinta tersebut menjadi modal untuk menemani dan sebagai jangkar nilai seluruh proses transformasi diri.

“Ketegangan sosial politik akhir-akhir ini diduga karena hasrat hijrah yang berlebihan yang tak didasari oleh cinta, maka Hijrah Cinta dapat menjadi tema yang meruwat kehidupan sosial politik keagamaan bangsa ini,” ujarnya.

Hijrah Cinta yang “dikampanyekan” Madrasah Rumi tersebut di DPK Provinsi Banten bukan pertama kalinya dilaksanakan. Sejak 2016, BQ dan kawan-kawannya sudah mengumpulkan sejumlah seniman musik, penyair, tari dan rupa untuk bersama-sama melakukan refleksi terhadap situasi kehidupan saat ini.

“Madrasah digunakan untuk mengingatkan kita pada kultur pendidikan agama yang pernah dialami di daerahnya masing-masing. Madrasah memang seperti sekolah, namun dalam bentuk yang informal, tidak kaku, relasi antar guru-murid dibiarkan cair, demi pencapaian tujuan penemuan kesadaran diri semua pelakunya,” jelas Dosen Teologi dan Filsafat UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut.

Kenapa harus Rumi, lelaki kelahiran pontang itu menjelaskan bahwa nama Rumi merujuk pada Maulana Jalaluddin Rumi, seorang sufi penyair dari Turki, yang puisi-puisi cintanya menginspirasi dunia Timur Barat.

“Nama Rumi digunakan karena spiritnya yang mewartakan agama sebagai cinta dan seni,” tuturnya.

Reporter: Fauzi R

Redaktur: Dendi S

 

 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here