WWF Gelar Lokakarya Mitigasi Bencana

0
25

WWF-Indonesia Kantor Program Ujung Kulon melaksanakan lokakarya pengkajian kerentanan dan kapasitas masyarakat secara oartisipatif untuk pengurangan resiko bencana di wilayah kawasan penyangga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) bersama delapan fasilitator lokal dari delapan desa penyangga TNUK di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Wilayah penyangga TNUK merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana seperti erupsi gunung meletus dan tsunami yang disebabkan oleh aktivitas Anak Gunung Krakatau. Masyarakat di kedelapan desa penyangga yang paling rawan bencana alam tersebut merasa sangat penting untuk mendapatkan kajian secara partisipatif terkait isu kebencanaan.

Kegiatan kajian partisipatif mengenai kebencanaan sangat penting dilakukan mengingat kawasan TNUK memiliki potensi rawan bencana karena berada di wilayah Anak Gunung Krakatau. SL Pekkerti melengkapi program yang telah kami dan Dinas Sosial gagas dan lakukan yaitu pembentukan Kelompok Masyarakat Siaga Bencana (KMSB) dan Desa Tangguh Bencana (Destana).

“Masyarakat yang memiliki pemahaman tentang kebencanaan dapat memperlancar proses evakuasi, penanggulangan paska bencana, dan akan meminimalisir korban jiwa serta kerugian material. BPBD Kabupaten Pandeglang menyambut baik dan sangat mendukung program SL Pekkerti ini,” kata Kepala Pelaksana
BPBD Kabupaten Pandeglang, Deni Kurnia saat ditemui di Hotel Kharisma, Labuan (16/07/2019).

Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda Pandeglang, Andri Pramono mengatakan, seperti yang tertulis di RAK, ancaman bencana yang ada di wilayah desa penyangga tidak hanya tsunami melainkan ada ancaman lain seperti kekeringan, tanah longsor, gempa bumi, banjir, dan kebakaran.

“Kami selaku pemerintah daerah siap mendukung dan bekerja bersama dengan pemerintah desa dan masyarakat desa penyangga untuk melakukan mitigasi bencana melalui program PRB,” kata Andri.

Sementara, Sekretaris Desa Cigorondong, Handi mengatakan, sangat mengapresiasi kegiatan SL Pekkerti yang dilakukan oleh masyarakat desa di daerahnya. Seperti yang diketahui Kampung Cigorondong merupakan salah satu dari delapan desa penyangga yang memiliki ancaman bencana seperti tsunami, kekeringan, tanah longsor dan lainnya.

“Harapan kami kegiatan SL Pekkerti ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memitigasi bencana. Kami juga mengharapkan adanya keterlibatan dari pihak lain untuk mendukung kami selaku implementator dalam upaya pencapaian RAK,” ujar Handi.

Ujung Kulon Site Manager, WWF-Indonesia, Kurnia Khairani mengatakan, dengan adanya pelaksanaan lokakarya ini untuk mengedukasi dan menginformasikan tentang ancaman bencana di sekitar wilayah TNUK yang berdekatan dengan habitat Badak Jawa. Sehingga kedepannya harus ada langkah antisipatif dan strategis agar tanggap hadapi setiap ancaman bencana alam utamanya tsunami.

“Bersama dengan para mitra termasuk pemerintahan daerah, pemerintahan desa serta BTNUK kami menyambut baik pelaksanaan program SL Pekkerti bagi masyarakat dan juga konservasi di TNUK,” kata Kurnia.

Pelaksanaan lokakarya ini merupakan rangkaian dari pelaksanaan Sekolah Lapangan Pekkerti (SL Pekkerti) yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia. Adapun tujuan dari lokakarya ini sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah, pemerintah desa, dan pemangku
kepentingan lainnya dalam mendukung tercapainya Rencana Aksi Ketangguhan (RAK) masyarakat desa penyangga yang merupakan salah satu output dari SL Pekkerti. Disamping itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kajian secara partisipatif untuk mempersiapkan masyarakat tangguh bencana.

Redaktur : A Supriadi
Reporter : Andre Sopian

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here