Politisi Diingatkan Tidak Baperan Saat Hadapi Perang Narasi Politik Jelang Pilkada Pandeglang

0
73

NARASI politik yang dibangun Raden Ahmad Dimyati Natakusumah yang menyatakan “saguru saelmu ulah ngaganggu” terhadap klan Mulyadi Jayabaya (JB) harus ditanggapi dengan kepala dingin, tidak kagetan apalagi baperan (bawa perasaan). Sebab, kalimat seperti itu memiliki banyak interpretasi.

Pengamat Politik UNMA Banten, Eko Supriatno mengatakan, sekeras apapun persaingan Pilkada Pandeglang 2020, harus tetap dalam batas wajar dan dihadapi dengan kepala dingin serta senyuman.

“Adu argumen serta adu pencitraan akan semakin gencar dilakukan. Kedua kubu (klan Dimyati dan klan JB, red) kemungkinan akan memasang kuda-kuda yang kuat dan bermain ofensif. Pertikaian politik akan terus berlanjut. Sahut-sahutan, saling kritik, saling menghujat, akan tetap mewarnai ruang publik kita hingga Pilkada Pandeglang 2020. Semakin mendekati masa pemilihan nanti, akan banyak intrik politik yang akan semakin menjadi. Namun demi membangun demokrasi yang berkeadaban, maka hindari politik yang tidak mendidik dan terkesan menyebalkan,” ungkap Eko kepada Tuntas Media, Minggu (06/10/2019).

Dikatakannya, perbincangan tentang trah politik kembali mencuat ke permukaan. Perbincangan ini tidak hanya menjadi obrolan serius para politisi, tetapi juga telah menjadi obrolan warung kopi masyarakat biasa.

“Menurut saya sah-sah saja semua trah politik siapapun dia terjun dalam dunia politik. Semua warga negara memiliki hak asasi untuk mencalonkan dan dicalonkan.

Semua warga negara dijamin secara hukum dan perundangundangan untuk memilih dan dipilih dalam setiap momentum politik pemilihan umum,” tukas dosen Ilmu Pemerintahan di Fakultas Hukum dan Sosial UNMA Banten ini.

Dirinya berpendapat, ada beberapa catatan penting yang seyogianya perlu dipertimbangan ketika kedua trah politik ini mendominasi dalam berbagai momen suksesi kepemimpinan. Pertama, mekanisme organisasi kepartaian harus tetap on the track, sehingga tidak menimbulkan gejolak internal di kalangan pengurus dan para kader partai politik ketika akan mengusung kandidat dari tokoh sanak saudara petahana. Hal ini semata-mata mesti dipahami dalam konteks bagaimana kita konsisten dan berkomitmen dalam melakukan kaderisasi.

“Siapa pun keluarga politik yang mempunyai trah politik keluarga yang mau tampil seyogianya dia adalah kader partai yang dibuktikan dengan keanggotaan dan keaktifannya di dalam membesarkan partai politik. Hal ini semata-mata dipahami agar institusi partai politik yang selama ini kita pahami sebagai institusi pencipta kader pemimpin benar-benar dihormati harkat, martabat, dan marwah politiknya,” terang Eko.

Kemudian yang kedua, bahwa partai politik bukanlah semata-mata “kendaraan rental politik” yang setiap waktu dan setiap saat bisa “direntalkan” atas dasar motif ekonomi-politik. Semua pihak harus merawat partai politik adalah institusi yang sah dalam melahirkan kader-kader kepemimpinan yang mumpuni.

“Kualitas dari trah dinasti politik harus teruji dan tepercaya, sehingga kualitas dan keberhasilan dalam konteks kepemimpinannya akan berakibat positif terhadap perkembangan dan kebesaran partai itu sendiri,” sambungnya.

Dirinya berharap, para kader pemimpin yang akan ditawarkan untuk dipilih masyarakat adalah mereka yang telah berjibaku menempa diri dengan aktif di ormas, partai politik, atau organisasi profesi. Kader-kader pemimpin yang “terjun langsung” dalam dinamika berbagai organisasi dengan balutan mental dan skill yang teruji, baik secara kemampuan, kecakapan, kecerdasan, intelektualitas, kapasitas, kapabilitas, dan keterampilan politik yang mumpuni.

“Siapa pun yang terlahir di dunia ini tidak pernah sebelumnya bercita-cita harus terlahir dari keluarga trah politik. Manusia terlahir dan terdidik karena sudah given menjadi bagian dari manusia. Artinya soal hak asasi dan hak untuk dipilih pada prinsip keadilan semuanya memiliki kesempatan yang sama,” pungkas Eko.

Redaktur : D. Sudrajat
Reporter : Ari

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here