Membandel, Kios Liar di Terminal Anten Dibongkar Paksa

0
27

PETUGAS gabungan yang terdiri dari Sub Datasemen Polisi Militir (Subdenpom) III/4-3, Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pandeglang, membongkar paksa sejumlah lapak pedagang kaki lima (PKL) yang berada di Terminal Anten Pasar Badak Pandeglang. Penertiban dilakukan karena belasan lapak tersebut tidak memiliki izin di area Terminal Anten.

“Lapak ini tidak berizin, tanahnya punya pemerintah daerah yang dikelola oleh Dinas Perhubungan, jadi kami meminta bantuan kepada Satpol PP dan Sub Datasemen untuk melakukan pembongkaran,” kata Tatang Mukhtasar, Kadishub Pandeglang, Jumat (22/01/2020) dini hari.

Tatang menuturkan, lapak PKL yang terbuat dari baja ringan ini sudah berlangsung hampir satu bulan. Adapun untuk teguran sudah disampaikan melalui Satpol PP Pandeglang. Adapun untuk perizinan, dia menyebutkan ada oknum dari Dishub Pandeglang yang bermain dengan pedagang dan oknum tersebut sudah dipindahtugaskan.

“Sepengetahuan saya sebagai kepala dinas tidak ada izin, tentunya ada oknum dari kami. Dan kami sudah melakukan pemindahan kepada oknum tersebut,” terangnya.

Di lokasi yang sama, Kepala Satpol PP Pandeglang, Entus Bakti mengatakan, tindakan pembongkaran gabungan ini sebelumnya sudah dilakukan koordinasi dengan Dishub. Ia menerangkan, Terminal Anten bukan untuk berjualan.

“Apa yang dikatakan Kadishub bahwa bangunan atau lapak ini liar, dan meminta kami untuk menertibkan,” ujar Entus.

Kata Entus, pihaknya sudah memanggil penanggungjawab dan melakukan mekanisme sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, pihaknya juga sudah memberikan waktu selama tiga hari kepada penanggungjawab agar dilakukan pembongkaran, akan tetapi dengan waktu yang sudah diberikan tidak dibongkar.

“Pihak penanggungjawab sudah siap melakukan pembongkaran dengan sukarela, tapi dengan waktu yang diberikan selama tiga hari tidak ada pembongkaran, maka kami bongkar paksa. Adapun untuk jumlah lapak sebanyak 17 lapak PKL yang dibongkar,” tuturnya.

Sementara itu, para pedagang pun hanya bisa pasrah ketika tempat usahanya dibongkar.

Ida, salah satu pedagang mengaku sudah mencoba memohon untuk dilakukan penangguhan pembongkaran tersebut kepada dinas terkait dan kepada Skertaris Daerah Kabupaten Pandeglang, namun tidak ada jawaban yang meringankan para pedagang.

“Kami sudah berusaha meminta kebijakan kepada pihak terkait, dan kami juga datangi Pak Sekda Fery itu, tapi hasilnya seperti ini,” kata Ida, sembari mata berkaca-kaca.

Ida dan pedagang lainnya kebingungan jika tidak diperbolehkan berjualan di area Terminal Anten lagi. Ia berharap, Pemkab Pandeglang bisa memberikan tempat yang layak untuk para pedagang yang mayoritas menjual sayuran tersebut. Dan mengerti kondisi para pedagang kecil yang berjuang menafkahi keluarnya di masa pandemi Covid-19 saat ini.

“Kalau tidak boleh di sini kami bingung, coba berikan kami sedikit saja belas kasihan dari orang tinggi seperti mereka. Kami masyarakat kecil tolong dipikirkan, di sini 17 pedagang yang mencari nafkah untuk keluarganya, apalagi dimasa pandemi saat ini. Udah sayuran mahal, lapak di bongkar, tolonglah kepada pemerintah lihat kami masyarakat kecil,” pungkasnya.

Redaktur : A Supriadi
Reporter : Andre Sopian

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here