Penjual Masker Kain di Pandeglang Raup Berkah di Tengah Wabah Corona

0
272

BEBERAPA waktu lalu masyarakat berbondong-bondong memborong masker untuk disimpan dan digunakan sebagai upaya pencegahan wabah virus corona. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab kelangkaan masker di Indonesia. Meski demikian, dalam situasi seperti ini muncul opsi baru penggunaan masker kain untuk menggantikan masker bedah.
Meskipun hanya sebagai pengganti, masker kain kini justru menjadi barang yang banyak diburu oleh masyarakat. Hal ini pun turut mengerek omzet bagi para penjual masker kain.

“Omset alhamdulillah pas di umumkan setidaknya pemakaian masker kita meningkat dari Rp. 100.000 perhari, sekarang Rp. 250.000 per hari. Saya mulai berjualan dari pagi jam 8:30 sampai pukul 17.00 WIB,” kata Yedi Supriadi, Selasa (07/04/2020), salah satu pedagang masker kain di Kabupaten Pandeglang.

Menurut Yedi, kenaikan penjualan sudah dialami sejak pertengahan bulan Maret 2020. Sebetulnya, Yedi merupakan pedagang boneka, Ia beralih karena situasi pendemi Covid-19. Meskipun omset penjualan boneka lebih besar dari masker, ia terpaksa beralih karena menurutnya dalam situasi seperti ini masker sedang banyak yang membutuhkan.

“Saya tadinya dagang boneka, karena situasi seperti ini jadi karyawan yang bisa berdagang boneka itu tergantung dari omset penjualan, akhirnya karena yang sekarang lagi rame di masker akhirnya kita berjualan masker,” terangnya.

Untuk harga dan jenis masker kain yang dijual Yedi sangatlah bervariatif, dari harga termurah Rp 5.000 untuk satu masker hingga harga Rp 15.000 untuk dua lembar masker.

“Setiap masker kain kualitasnya berbeda, untuk harga yang jenisnya untuk hijab itu 15.000 dua itu ada talinya dua, tapi untuk talinya satu untuk anak-anak itu talinya satu,” tuturnya.

Ia menjelaskan, bahwa penjualan maskernya itu bekerjasama dengan pengrajin atau salah satu konfeksi kain, akan tetapi untuk pola dan ukuran masker Yedi yang membuat.

“Apapun itu bentuknya, dengan keadaan sekarang yang penting kami ada penghasilan, intruksi dari pemerintah untuk lockdown kami dirumah itu tidak bisa mencari solusi untuk kami mencari nafkah, akhirnya dengan apapun itu bentuknya dilarang atau tidaknya inilah akhirnya kami berjualan,” pungkasnya.

Iwan (54) salah seorang pembeli mengatakan, alasannya membeli masker kain karena masker untuk medis atau yang biasa ditemukan di apotik sulit untuk didapatkan. Kondisi pendemi Covid-19 ini membuatnya terpaksa harus membeli masker kain.

“Harganya lebih murah terus praktisi juga bisa dicuci, masker medis soalnya susah didapat sekarang di apotek saja susah didapat,” singkatnya.

Redaktur : A Supriadi
Reporter : Andre Sopian

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here