Mendekati Akhir Jabatan, Irna Harap Pemimpin Baru Membawa Kemajuan Untuk Pandeglang

0
90

TAHUN ini merupakan tahun terakhir Irna Narulita dan Tanto Warsono Arban memimpin Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, setelah kurang lebih 2 periode menjalankan amanahnya menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pandeglang.

“Pada momentum HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79 ini, menjadi hari yang istimewa bagi saya. Karena ini adalah tahun terakhir saya dan Tanto memimpin Kabupaten Pandeglang,” kata Irna, usai melaksanakan upacara HUT RI ke-79, Sabtu (17/8/2024).

Ia mengatakan, bahwa pemimpin yang baru yang akan menggantikannya nanti bisa memberikan warna yang baru serta menciptakan inovasi dan hal-hal yang baru untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pandeglang.

“Saya sih berharap tidak ada like dan dislike, ga suka dengan program sebelumnya. Kita kan 1 periode ke periode lainnya sama yang bisa membawa perubahan, representasi masyarakat di wajah kita. Jadi pemimpin yang akan datang itu, ada visi misi Bupati yang belum terselesaikan pasti sama, infrastruktur dasar. Karena kita membangun hampir 300 miliyar, tapi kan ga cukup anggarannya,” ungkap Irna.

Irna menegaskan, bahwa program yang sudah dikerjakan dan belum dikerjakan agar menjadi rekomendasi bagi siapapun pemimpin yang terpilih selanjutnya untuk bisa bekerja.

“Kita sudah sampaikan, luas Pandeglang sama Lebak itu setengahnya Kota Tanggerang dan Serang. Kalau mereka cuma 400 kilometer jalan kabupaten, kita sampai 723 kilometer ditambah lagi 60 kilometer. Jadi pantas saja mereka jalan kabupaten nya 400 kilometer selesai, ditambah semua berjajar para investor pabrik-pabrik. Itu PAD retribusi dikawasan industri itu berapa yang masuk ke PAD, sementara kita tidak ada swasta,” terangnya.

Irna berharap kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pandeglang, agar membuka peluang untuk para investor dalam berinvestasi demi kemajuan dan kemakmuran Pandeglang kedepan.

“Saya meminta kepada seluruh elemen masyarakat, untuk terbuka bagi para investor, jangan diganggu mereka. Kalaupun ada kesalahan, pelan-pelan seperti saya. Jika dia belum berizin, saya panggil untuk membuat izinnya kalau tidak saya tutup. Tapi kita baik-baik, mereka punya uang. Kalau mereka terluka perasaannya, mereka kabur karena tidak nyaman di Pandeglang. Dan yang rugi kita lagi, tinggal yang demo teriak kemiskinan, pengangguran. Kalau tidak ada swasta, mati lah kita,” ujarnya.

Redaktur : Fauzi
Reporter : Asep