SERANG, TUNTASMEDIA.COM – Malam itu, Teras Bamboo di Kota Serang tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Ia menjelma menjadi ruang perdebatan sejarah, tempat ingatan kolektif dipertanyakan kembali, dan panggung menjadi arena bagi suara-suara yang selama ini terkubur dalam arsip kolonial.

Teater Guriang sukses mementaskan pertunjukan teater berjudul “Regent”, karya dan sutradara Dede A. Majid, pada Sabtu (30/5/2026) pukul 19.30 WIB. Dengan durasi sekitar satu jam, pertunjukan tersebut berhasil memikat perhatian penonton yang memenuhi ruang pertunjukan sejak awal hingga akhir pementasan.

Namun, “Regent” bukan sekadar pertunjukan teater sejarah. Ia merupakan upaya membaca ulang masa lalu, menguji kebenaran yang selama ini diterima begitu saja, sekaligus mengajak publik mempertanyakan siapa sesungguhnya yang berhak menulis sejarah.

Tokoh sentral dalam pertunjukan ini adalah Adipati Karta Nata Negara, Bupati Lebak yang memimpin wilayah tersebut selama kurang lebih dua dekade pada abad ke-19. Namanya dikenal luas melalui novel legendaris Max Havelaar karya Multatuli, sebuah karya sastra yang selama ini dianggap sebagai kritik terhadap praktik kolonialisme Belanda di Hindia Belanda.

Dalam narasi yang dibangun Multatuli, Karta Nata Negara digambarkan sebagai penguasa pribumi yang otoriter, korup, dan menindas rakyatnya sendiri. Gambaran itu kemudian bertahan selama lebih dari satu abad dan menjadi bagian dari ingatan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun melalui “Regent”, narasi tersebut digugat.

Di atas panggung, sang bupati tidak tampil sebagai tokoh antagonis yang telah selesai dihakimi sejarah. Ia hadir sebagai manusia yang berusaha memberikan kesaksian atas dirinya sendiri. Ia mempertanyakan tuduhan yang selama ini dilekatkan kepadanya. Ia meminta ruang untuk berbicara.

Pertunjukan ini tidak berupaya membebaskan Karta Nata Negara dari segala kesalahan, tetapi menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana sejarah yang kita kenal merupakan fakta, dan sejauh mana ia adalah konstruksi kekuasaan?

Pertanyaan tersebut menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan pertunjukan. Penonton diajak memasuki wilayah abu-abu sejarah, tempat kebenaran tidak hadir secara tunggal. Di sana, baik Karta Nata Negara maupun Multatuli sama-sama menjadi tokoh yang terperangkap dalam pusaran kolonialisme.

Tidak ada yang benar-benar mengetahui kebenaran yang utuh. Yang tersisa hanyalah berbagai versi cerita yang saling berebut legitimasi.

Panggung yang Penuh Kejutan

Sejak awal pementasan, sutradara membangun suasana yang jauh dari kesan monoton sebagaimana lazimnya sebuah monolog. Berbagai elemen artistik digunakan untuk menciptakan lapisan makna yang memperkaya cerita.

Kejutan demi kejutan hadir sepanjang pertunjukan. Tidak hanya melalui tata visual, tata bunyi, dan komposisi ruang panggung, tetapi juga melalui simbol-simbol yang secara perlahan mengungkap lapisan konflik yang lebih dalam.

Puncaknya terjadi menjelang akhir pertunjukan.

Di tengah ketegangan dramatik yang telah dibangun sejak awal, panggung tiba-tiba berubah menjadi ruang ekspresi tubuh. Dua penari menghadirkan koreografi yang menggambarkan kekerasan seksual yang dilakukan kolonial Belanda terhadap perempuan pribumi.

Adegan ini menjadi salah satu momen paling kuat dalam pertunjukan.

Alih-alih menghadirkan visual yang eksplisit, koreografi dibangun melalui simbolisasi gerak. Tubuh para penari bergerak dalam ketegangan antara perlawanan dan penindasan, menghadirkan pengalaman emosional yang mengguncang tanpa harus menampilkan adegan vulgar.

Pilihan artistik tersebut menunjukkan kematangan garapan. Kekerasan tidak dipertontonkan sebagai sensasi, melainkan sebagai luka sejarah yang masih meninggalkan jejak panjang hingga hari ini.

Dalam konteks sejarah kolonial, persoalan kekerasan terhadap perempuan memang menjadi salah satu aspek yang kerap terpinggirkan dari narasi besar tentang penjajahan. Melalui koreografi tersebut, “Regent” menghadirkan kembali sisi sejarah yang sering luput dibicarakan.

Penari yang Menjadi Kunci Narasi

Kehadiran dua penari jaipong sejak awal pertunjukan semula tampak sebagai pembuka acara yang bersifat seremonial. Mereka menari dengan lincah, menghadirkan atmosfer pesta dan kemegahan yang identik dengan lingkungan para penguasa lokal pada masa kolonial.

Namun seiring perkembangan cerita, penonton menyadari bahwa kedua penari itu bukan sekadar elemen dekoratif.

Mereka merupakan bagian penting dari struktur dramatik pertunjukan.

Tarian yang semula tampak sebagai hiburan perlahan berubah menjadi metafora tentang relasi kuasa. Tubuh para penari menjadi medium yang menghubungkan berbagai fragmen cerita, hingga akhirnya salah satu dari mereka muncul sebagai figur sentral dalam puncak konflik pertunjukan.

Transformasi fungsi tokoh tersebut menjadi salah satu kekuatan dramaturgi “Regent”. Apa yang semula tampak sebagai ornamen panggung ternyata menyimpan peran penting dalam membangun makna keseluruhan pertunjukan.

Kedua penari berhasil menampilkan penghayatan yang kuat. Gerak mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga mampu menghidupkan emosi yang menjadi ruh dari adegan-adegan penting dalam pertunjukan.

Teater sebagai Arsip Alternatif

Bagi Teater Guriang, “Regent” bukan sekadar karya pertunjukan. Ia merupakan bagian dari proyek kebudayaan jangka panjang yang diberi nama “Di Tepi Sejarah”.

Program ini berupaya mendokumentasikan tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Banten melalui medium seni pertunjukan.

Pimpinan Produksi “Regent”, Yogi Gumilar, menjelaskan bahwa pemilihan Karta Nata Negara merupakan bagian dari upaya menghadirkan kembali figur-figur yang selama ini hanya dikenal melalui catatan sejarah resmi.

“Kami mendokumentasikan tokoh-tokoh yang terkait erat dengan Banten. Pada edisi kedua ini kami memilih Adipati Karta Nata Negara. Sebelumnya kami mengangkat biografi Gebar Sasmita, tokoh seni rupa Banten,” ujar Yogi.

Menurutnya, pendokumentasian tokoh melalui teater merupakan bentuk arsip alternatif yang memiliki pendekatan berbeda dibandingkan dokumentasi akademik atau film dokumenter.

“Kalau film mendokumentasikan melalui film dokumenter, kami melakukan pendokumentasian dengan cara kami sendiri, yaitu melalui pertunjukan monolog,” tambahnya.

Gagasan tersebut menjadi menarik karena menempatkan teater bukan hanya sebagai medium hiburan, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan. Pertunjukan menjadi cara untuk menghidupkan kembali tokoh-tokoh sejarah, mempertemukan masa lalu dengan persoalan masa kini, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas di tengah masyarakat.

Menjelajah Kota-Kota, Membawa Pertanyaan yang Sama

Sebelum dipentaskan di Serang, “Regent” telah melakukan perjalanan ke berbagai kota di Indonesia.

Pertunjukan ini pernah hadir di Universitas Muhammadiyah Jakarta melalui kerja sama dengan Sanggar Teater Kumis. Selanjutnya dipentaskan di Black Box Wahyu Wibisana dalam kegiatan Ikatan Drama Jakarta Barat.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Yogyakarta dengan pementasan di Pendopo Sanggar Sedhut Senut dan Pendopo Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada Desember 2025.

Di setiap kota yang disinggahinya, “Regent” membawa pertanyaan yang sama: apakah sejarah yang selama ini kita yakini benar-benar merupakan kebenaran yang utuh?

Melalui pertanyaan itu, Teater Guriang menghadirkan sebuah pertunjukan yang tidak menawarkan jawaban pasti. Sebaliknya, ia mengajak penonton untuk terus meragukan, menafsirkan, dan membaca ulang sejarah dari berbagai sudut pandang.

Pada akhirnya, “Regent” bukan hanya tentang Adipati Karta Nata Negara. Ia adalah tentang bagaimana sejarah dibentuk, siapa yang berhak menulisnya, dan siapa yang selama ini tidak pernah diberi kesempatan untuk berbicara.

Malam itu, di Teras Bamboo Serang, sejarah yang lama dibungkam seolah kembali menemukan suaranya.