Penulis: Reva Auralia* 

Di bawah cahaya hangat pagi yang baru lahir dari ufuk timur, botol-botol madu berkilau— serpihan cahaya kecil yang menolak padam di tengah deru kendaraan. Di pinggir jalan PCI, Cilegon, Darma dan anaknya, Amih, duduk bersila tanpa alas kaki. Di antara lalu-lalang orang bersepatu mengkilap, langkah mereka terasa paling jujur—menyentuh bumi, menolak jarak dari kesederhanaan.

Darma berasal dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak—tanah leluhur masyarakat Baduy, dijaga dengan kesetiaan dan kesederhanaan turun-temurun. Hitam pakaian mereka menyatu dengan bayangan pagi. Tidak ada papan nama, tidak ada teriakan “Madu, Pak!” Hanya dua manusia yang telah berjalan jauh dari perbukitanKanekes, membawa manis dari hutan, dan lelah yang jarang mereka ungkapkan.

Di tengah kebisingan kota, mereka hadir tanpa tergesa. Tak sekadar menjual madu, mereka membawa perjalanandan ketulusan yang diperas dari langkah panjang. Manis sejati, bagi mereka, bukan soal rasa—melainkan perjuangan yang mengalir di setiap tetesnya.

Perjalanan dimulai dari rumah di Kanekes, menuruni jalan setapak berbatu menuju Pos Ciboleger. Lima belas menit kaki menapak tanah licin karena embun pagi. “Kalau orang luar biasanya bisa setengah jam,” kata Darma sambil tersenyum tipis, matanya mengisyaratkan lelah tersembunyi.

Dari pos, ia naik angkot ke Stasiun Rangkasbitung, lalu lanjut kereta ke Cilegon. Tidak ada tiket jauh hari, tidak ada jadwal pasti. “Kami berangkat kalau madu sudah siap dijual. Pulang kalau sudah habis,” ujarnya, sesekali menatap Amih, mengukur kekhawatiran yang tak terdengar. Amih terkadang bertanya lirih, “Bapa, kita kapan sampai?”

Darma tersenyum sambil mengusap kepala anaknya, “Sebentar lagi, Nak.” Namun di balik senyum tipis itu, hatinyatetap bergetar. Ingatannya menembus waktu, kembali ke malam-malam ketika ia dan anaknya tidur di sebuah gubuk kecil—tempat yang lebih menyerupai persinggahan darurat daripada rumah.

Di sana angin menyelinap lewat celah-celah papan, dingin menempel di kulit, dan hujan sering terdengar seperti menetes tepat di atas kepala mereka. Malam-malam itu panjang, dan rasa cemas sering datang tanpa mengetuk. Tapi dari ruang sempit itu, Darma belajar arti keteguhan: bagaimana seorang ayah tetap berdiri meski dunia seolah runtuh, bagaimana harapan tetap dijaga meski gelap terasa lebih dekat daripada terang.

Kini, saat anaknya memandangnya dengan mata penuh percaya, Darma tahu satu hal— perjalanan dari gubuk kecil itu bukan sekadar episode singgah di masa sulit, tetapi sebuah pengingat bahwa mereka pernah bertahan bersama. Dan dengan suara lembut yang ia tahan sebentar, ia kembali berkata, “Sebentar lagi, Nak.” Setiap langkah mereka adalah gabungan fisik dan emosional—panas yang menempel di kulit, kaki lecet, peluh yang lengket disarung, dan detik- detik kecil saat Amih menguap atau mengerutkan dahi. Ini bukan perjalanan romantis; ini perjalanan hidup yang nyata.

Kenangan di hutan Kanekes selalu muncul—embun membasahi rambutnya, aroma pepohonan bercampur tanah lembap, suara lebah beterbangan di antara dedaunan. Kaki lecet, tangan digigit lebah, tapi ia tetap tersenyum. “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak” (Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak), kalimat itu selalu ia ulang dalam hati sebagai prinsip sederhana yang menjadi pegangan hidup, tentang bagaimana manusia seharusnya mengambil dari alam tanpa merusaknya.

Amih ikut sesekali, menatap lebah dengan kagum. “Bapa, lebah-na teu ngegel, ya?” (Bapa, lebahnya tidakmenyengat, ya?) Darma tersenyum, menunduk, “Hanya hati-hati, Nak.” Detik itu, ia sadar mendidik anak berarti mengajarkannya hidup seimbang, sabar, dan menghargai setiap langkah.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Stasiun Rangkasbitung, Darma dan Amih akhirnya sampai di Cilegon. Siang itu, matahari menetes seperti cairan panas di kulit. Debu menempel di kaki, dan bau asap kendaraan bercampur aroma madu. Darma bersandar di dinding kayu warung sederhana di pinggir jalan. Kain ikat biru tua melingkari kepalanya—ciri khas Baduy Luar, menandai asal-usul dan kebanggaannya. Di sampingnya, Amih memeluk sebotol madu hutan seperti memeluk mainan favoritnya. Senyumnya tipis, tapi matanya tajammemandangi jalan yang tak pernah sepi kendaraan.

Bagi sebagian orang, mereka mungkin hanya dua sosok asing di tepi jalan. Tapi mereka datang dari jauh—dariperbukitan Kanekes. Di balik botol-botol madu keemasan itu, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai dari jejak langkah Darma meninggalkan rumahnya di lereng hutan.

Amih duduk di sampingnya, menatap jalan raya. Kadang ia tertawa kecil, meniup tutup botol madu; kadang meringis karena panas. Ia bertanya, “Bapa, orang-orang kenapa jalannya gancang teuing?” (Bapa, mengapa orang-orang jalannya terlalu cepat?) Darma tersenyum, tidak menjawab. Ada hal terlalu besar untuk dijelaskan pada anak enam tahun. Perlahan, Amih belajar tentang kerasnya dunia kota.

Seorang pembeli berhenti, menawar harga. Darma tetap tenang, menunduk sopan, “Bisa sedikit lebih?” Anggukan dan ucapan terima kasihnya lembut, bagian dari perjalanan rezeki yang bukan sekadar transaksi.

Botol-botol madu itu memantulkan cahaya sore. Panen dilakukan sepenuhnya alami—tanpa alat modern, tanpa racun, tanpa mesin. Hutan memberi, mereka mengambil dengan aturan turun- temurun. Berdasarkan Jurnal Hutan Lestari Universitas Tanjungpura (Syam, Iskandar, & Tavita, 2020), masyarakat Baduy di Desa Kanekes masih mempertahankan sistem panen madu hutan secara alami—sebuah praktik yang mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam.

Setiap botol dijual seharga Rp150.000. Bagi sebagian orang kota, harga itu mungkin kecil. Tapi bagi Darma, setiap penjualan berarti satu langkah lebih dekat membawa pulang kebutuhan keluarganya.

“Yang penting habis, bisa bawa uang buat anak dan istri,” ujarnya pelan. Dalam kalimat sederhana itu tersimpan filosofi hidup yang tenang—bahwa rezeki tak perlu dikejar terlalu keras, cukup dijalani dengan sabar.

Pepatah yang Darma pegang, “Sing sabar ngala berkah” (siapa yang sabar, dialah yang mendapat berkah). Tapi sabar tidak mudah. Ada lelah, kekhawatiran, rasa gagal yang disimpan dalam senyum tipisnya. Mata Darma sesekali menatap Amih yang mengantuk, atau orang-orang kota yang lewat begitu cepat—tanpa melihat mereka.

Amih sesekali bosan, menguap di pangkuan ayahnya, tapi tak jarang matanya tertuju pada sepatu orang kota. Sekali ia bertanya polos, “Bapa, kenapa orang-orang pake sepatu?” Ia tertawa sendiri, meniup tutup botol madu, meniru gerakan ayahnya saat menyiapkan botol-botol madu. Kadang tumpah sedikit, ia meringis menatap madu menetes. Darma hanya tersenyum, menepuk pundaknya, “Tidak apa-apa, Nak. Belajar memang selalu berantakan dulu.”

Malam tiba, mereka tidur di gubuk kayu kecil. Bau asap kendaraan bercampur aroma madu, panas aspal dan dingin malam bersaing di kulit. Amih menempel ke dada Darma, yang tetap berjaga. Semua sensoris ini membentuk pengalaman manusia yang nyata.

Di sore meredup, Darma duduk menatap Amih yang mengantuk. Anak itu sesekali mengerutkan dahi saat menyesuaikan posisi, tapi tidak rewel. Kadang ia bertanya hal-hal kecil, “Bapa, besok kita jual madu lagi?”

Darma menepuk kepala anaknya, “Iya, Nak. Kita jalan lagi besok.”

Botol terakhir terjual. Amih tersenyum lega, Darma menepuk bahu anaknya. “Besok kita jalan lagi ya,” katanya pelan. Tidak ada moral pamungkas—hanya kenyataan: panas aspal, kaki lecet, anak mengantuk, senyum tipis, perjalanan yang belum selesai.

Mereka pulang ke Kanekes, membawa madu, kaki lecet, dan hati yang percaya pada pepatah leluhur. Di dunia serba cepat, langkah mereka yang pelan terasa paling jujur. Tidak mengejar waktu, tapi menghormati setiap detik yang dijalani dengan hati tenang.

Dari tangan yang menenteng madu hutan, kita diingatkan tentang arti cukup—bekerja tanpa menuntut lebih, memberi tanpa kehilangan arah, dan menjaga tanpa ingin dilihat. Langkah- langkah pelan ini mengajarkan kita: manis sejati bukan soal rasa, tapi hati yang sabar menapak setiap perjalanan.(*)

  • Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Serang Raya
  • Tulisan ini merupakan tugas Mata Kuliah Penulisan Fature