Penulis: Wulan Mayasari, dr., M.H.Kes., AIFO-K (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran)
SECARA medis, luka memiliki arti ketika ada ketidaksinambungan jaringan, yaitu kumpulan sel yang tadinya utuh. Secara kedokteran forensik, luka bisa dibedakan jenisnya, diantaranya yaitu luka lecet, luka terbuka, dan memar. Masing-masing memiliki mekanisme, dampak, dan hasil penyembuhan. Luka bisa berupa luka yang sangat ringan sampai luka yang sangat berat yang dapat menyebabkan kematian.
Secara mekanik, luka disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam. Trauma tumpul dan trauma tajam dibedakan berdasarkan luas permukaan benda dengan luas yang menyentuh jaringan tubuh. Luka lecet adalah luka yang kerusakannya hanya terbatas pada jaringan epidermis kulit, luka terbuka adalah luka yang lebih dalam dari luka lecet, melibatkan jaringan dermis dan jauh lebih dalam, bisa sampai kepada otot, tulang, atau bahkan rongga tubuh, sedangkan memar adalah pecahnya pembuluh darah di bawah kulit, tanpa adanya kerusakan kulit.
Proses penyembuhan pada ketiga luka ini memiliki jalur yang berbeda sehingga hasil akhir proses penyembuhan akan berbeda. Pada luka lecet dan memar, proses penyembuhan luka tidak menimbulkan jaringan parut pada kulit sehingga tidak ada bekas luka yang terjadi, sedangkan pada luka terbuka, ada jaringan parut yang terbentuk, sehingga meninggalkan bekas luka. Bekas luka bisa berbentuk berbagai macam, sesuai dengan bentuk perlukaan yang terjadi dan bakat terjadinya keloid, yaitu bekas luka yang lebih tinggi dari permukaan kulit.
Tahap penyembuhan luka secara umum terbagi menjadi:
- Tahap hemostasis, yaitu tahap pembekuan. Tahap ini terjadi segera setelah perlukaan terjadi. Pembuluh darah menjadi lebih sempit, keping darah terkumpul beserta fibrin darah membentuk semacam jaring untuk menghentikan perdarahan. Hasil dari proses ini berupa keropeng.
- Tahap inflamasi atau peradangan. Peradangan berlangsung sekitar 5 hari pertama saat perlukaan terjadi. Sel darah putih (neutrofil dan makrofag) membersihkan luka dari mikroba, sel-sel yang telah mati, dan kotoran lainnya. Hasil akhir dari proses ini adalah warna kemerahan, bengkak, nyeri, rasa hangat di sekitar luka, dan penurunan fungsi dari jaringan itu sendiri.
- Tahap proliferasi atau pembentukan jaringan baru. Tahap ini berlangsung di hari ke 3 sampai pekan ke 3. Pembentukan jaringan granulasi yang berwarna kemerahan, pembentukan kolagen oleh fibroblas, serta pembentukan jaringan pembuluh darah baru atau angiogenesis untuk memberikan nutrisi dan oksigen. Luka akan mulai mengecil dengan penarikan bagian tepi luka ke tengah.
- Tahap remodeling atau maturasi (pematangan). Tahap ini berlangsung setelah pekan ke 3 perlukaan sampai berbulan-bulan. Kolagen yang terbentuk akan menyusun ulang jaringan menjadi lebih kuat.
Banyak faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka, misalnya faktor kebersihan luka, infeksi, kondisi luka yang kurang lembab (kering), dehidrasi, adanya benda asing dalam luka, sampai kekurangan nutrisi, penyakit diabetes dan penyakit kelainan darah, merokok, dan kelainan lainnya.
Untuk mendapatkan penyembuhan luka yang ideal, luka harus dirawat secara tepat. Datang ke pelayanan medis untuk pengobatan luka, merawat kebersihan luka, menjaga luka tetap lembab, dan konsumsi makanan padat nutrisi akan membuat luka mengalami proses penyembuhan yang maksimal, sehingga bekas luka bisa lebih minimal dan jaringan dapat kembali dengan fungsi yang optimal.























