GURIANG Tujuh Indonesia menggelar kegiatan Pengenalan Warisan Budaya bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Amphiteater Guriang Indonesia, Warunggunung, Lebak, Banten, selama tiga hari berturut-turut dari tanggal 26 hingga 28 September 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan seni rupa, seni tari tradisional, dan seni teater kepada anak-anak berkebutuhan khusus dengan cara yang melibatkan semua orang dan membuat mereka aktif berpartisipasi.
Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Dalam seni rupa, anak-anak diajak melukis dan membuat kriya, yaitu kerajinan tangan dari barang bekas menjadi miniatur. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan motorik halus serta pemahaman mereka tentang pentingnya nilai budaya dan menjaga lingkungan.
Selain itu, mereka juga belajar tari tradisional, di mana setiap gerakan tari membantu anak-anak merasakan irama serta mengeksplorasi gerakan tubuh. Kemudian, seni teater juga melengkapi kegiatan ini, dengan memberikan ruang bagi mereka untuk bermain peran dan mengeksplorasi cerita tentang kepiting melalui drama.
Selama kegiatan, para fasilitator seni yang berpengalaman juga turut menjadi mentor di setiap bidang kesenian. Akhmad Yusuf, seorang seniman teater, memandu anak-anak dalam eksplorasi teater. Adi Handayana, seorang seniman seni rupa, mengarahkan pembuatan kriya, sedangkan Samsudin, seniman tari, membimbing mereka dalam mempelajari gerakan tari tradisional.
Direktur Guriang Tujuh Indonesia, Dede Abdul Majid, mengungkapkan rasa bangganya terhadap kegiatan ini.
“Kami percaya bahwa setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, memiliki hak yang sama untuk mengenal dan mencintai budaya bangsa. Melalui seni, mereka bisa mengekspresikan diri sekaligus memahami lebih dalam tentang kekayaan budaya yang kita miliki,” ujar Majid dalam wawancara, Sabtu (28/9).
Salah satu pendamping anak berkebutuhan khusus, Ari Gunadi, juga menyampaikan kesannya terhadap program ini, bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak berkebutuhan khusus karena lebih menekankan pada keterampilan hidup.
“Kegiatan ini menambah ilmu untuk siswa-siswa kami dan menjadi pengalaman baru bagi mereka. Mereka belajar sambil bermain, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan lebih baik,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman anak-anak berkebutuhan khusus tentang budaya Indonesia, serta membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial dan emosional melalui seni.























