Kolaborasi Masyarakat, Pemdes dan Perusahaan Dorong Revitalisasi Infrastruktur Eduwisata Lembur Mangrove Patikang

0
53

Lembur Mangrove Patikang, kawasan konservasi dan ekowisata mangrove seluas 3 hektar
di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, terus menunjukkan perkembangan positif dalam upaya penguatan berbasis komunitas yang didukung oleh universitas dan industri. Kawasan yang dikelola oleh Pokdarwis Putri Gundul ini telah menjadi pusat konservasi dan penghasil bibit mangrove utama di Pandeglang, sekaligus destinasi wisata edukasi dengan aktivitas birdwatching, susur sungai dengan kano, dan Liwungan Island Trip. Namun demikian, sejumlah
tantangan masih dihadapi, terutama pada aspek infrastruktur dan edukasi wisata.

Gardu pandang yang menjadi ikon birdwatching kini lapuk dan ambles, akses kawasan terbatas, serta minimnya media edukasi
terkait biodiversitas atau keanekaragaman satwa dan hayati di daerah ini. Selain itu, lokasi yang bersebelahan dengan garis
pantai juga membuat ancaman banjir rob, gelombang pasang, dan abrasi pantai menjadi risiko yang harus segera dimitigasi.

Untuk menjawab tantangan ini, Pokdarwis Putri Gundul bekerja sama dengan Program Studi Arsitektur dan Desain Komunikasi Visual Universitas Multimedia Nusantara (UMN) melalui Program Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat oleh Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2025 Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Melalui skema hibah yang dimulai pada bulan Agustus 2025 ini, dihasilkan solusi berupa gardu pandang yang dilengkapi dengan binocular NC25X100 dan media eduwisata interaktif berupa signage interaktif yang terhubung dengan website. Menurut Fonita Theresia Yoliando selaku dosen
peneliti dari UMN, “Pada kenyataannya, kami kalau sendiri tidak bisa apa-apa karena pengembangan masyarakat yang
berkelanjutan membutuhkan berbagai pihak untuk saling bergandeng tangan mencapai satu visi, mulai dari pemerintah,
industri, universitas, komunitas, dan masyarakat setempat. Kami bangga bahwa proyek Lembur Mangrove Patikang ini adalah
salah satu contoh positif dimana setiap pihak mengambil peran aktif dan saling gotong royong untuk mencapai visi bersama.”

Perancangan gardu pandang ini dilakukan melalui proses brainstorming dan participatory design research dengan keterlibatan masyarakat setempat. Desain gardu pandang ini direncanakan memiliki fungsi ganda sebagai titik observasi wisata dan titik evakuasi bencana, dengan elevasi lebih dari 50 cm di atas muka air rob tertinggi. Untuk meningkatkan kualitas pengalaman birdwatching, ditambahkan pula fasilitas binocular dengan tingkat zoom mencapai 25x dan mounting 360°.

Dalam pelaksanaan program ini, kolaborasi lintas pihak menjadi kunci. Selain swadaya masyarakat, dukungan juga datang dari
berbagai mitra, termasuk Chandra Asri yang berperan sebagai mitra pembangunan dan pendamping Lembur Mangrove Patikang dalam mengembangkan area edu-ekowisata ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan mengutilisasi limbah nonB3 perusahaan.

Sebanyak 179 meter trekking mangrove di area dibangun menggunakan palet plastik dan papan plastik daur ulang yang terbuat dari 5 ton sampah plastik multilayer yang tidak termanfaatkan, menjadikannya yang pertama untuk diterapkan di area edu-ekowisata. Dengan kerjasama ini penerapan konsep sustainability dan ekonomi sirkular dapat lebih implementatif sekaligus memastikan hasil penelitian dari masyarakat yang kembali ke masyarakat.

Dikutip dari Hedista Rani Pranata selaku dosen peneliti dari UMN menyatakan bahwa inovasi material daur ulang dari Chandra Asri ini sangat menginspirasi dan bermanfaat karena materialnya yang kuat, tahan lama, dan juga memiliki fleksibilitas tinggi. Kontribusi penting juga datang dari empat mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) yaitu Elicia Valerina dan Brenda
Alessandra serta Arsitektur Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yaitu Viona Zheng dan Matthew Rafael Santoso,
yang terlibat langsung melalui program inisiasi PRO-STEP Research & Technology yang mengacu pada poin SDG 13
(Climate Action) dan 15 (Land).

Mahasiswa Arsitektur menyusun rancangan teknis gardu pandang dengan pendekatan partisipatif, sementara mahasiswa DKV mengembangkan media desain interpretatif berupa papan informasi interaktif,
konten visual biodiversitas, serta strategi komunikasi visual yang memperkuat pengalaman eduwisata. Keterlibatan ini
menunjukkan peranan kolaborasi interdisiplin antara mahasiswa dan dosen yang memberikan pengalaman wisata melalui
desain yang tidak hanya kuat secara teknis dan estetis, tetapi juga komunikatif, edukatif, dan tepat sasaran.

Kepala Desa Citeureup, Oman Suherman SH, turut mendukung penuh inisiatif ini. Sebagai pemimpin desa yang aktif hadir
di tengah masyarakat melalui kegiatan tahlilan, pengajian rutin, dan silaturahmi dengan berbagai pihak, beliau juga mengapresiasi dukungan eksternal terhadap program mangrove. Dalam salah satu kesempatan, Oman Suherman
menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang berkontribusi, seperti IKAMaT dan PT Chandra Asri, atas kolaborasinya dalam mendukung keberlanjutan konservasi mangrove di Citeureup.

“Kami berharap pembangunan infrastruktur baru ini tidak
hanya memperkuat daya tarik wisata, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana. Dengan
keterlibatan semua pihak, Lembur Mangrove Patikang dapat menjadi contoh eduwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan,” ujar Oman Suherman.

Kedepannya, program ini akan dilanjutkan dengan pelatihan eduwisata dan sistem pengelolaan berbasis peran komunitas. Harapannya, Lembur Mangrove Patikang dapat terus berkembang sebagai destinasi unggulan Pandeglang, sekaligus laboratorium hidup bagi pendidikan lingkungan dan mitigasi bencana yang berkelanjutan melalui inisiasi Program Hibah Kemdiktisaintek yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara langsung.

Redaktur : Fauzi