Senin, Juni 8, 2026

Pertebal Kepercayaan Investor, BCA Siapkan Rp5 Triliun untuk Buyback Saham

131
0
JAKARTA, TUNTASMEDIA.COM  – Emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), resmi mengumumkan rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham (share buyback) dengan nilai fantastis mencapai Rp5 triliun.
Langkah ini diambil manajemen untuk menjaga stabilitas pasar modal sekaligus memberikan imbal hasil yang lebih optimal bagi para pemegang saham di tengah dinamika ekonomi global.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan bahwa aksi korporasi ini merupakan bentuk komitmen perseroan dalam mendukung penguatan pasar modal domestik.
“Aksi ini dilakukan dalam rangka turut mendukung stabilitas pasar modal Indonesia, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan tingkat pengembalian yang lebih optimal bagi para pemegang saham,” ujar Hera dalam keterangan resminya, Rabu (28/1/2026).

Berdasarkan keterbukaan informasi, BCA akan meminta restu pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 12 Maret 2026. Jika disetujui, periode eksekusi buyback akan berlangsung selama satu tahun.

Berikut adalah poin-poin teknis rencana tersebut:

  • Alokasi Dana: Maksimal Rp5.000.000.000.000 (termasuk biaya perantara dan biaya terkait lainnya).

  • Volume Saham: Pembelian tidak akan melebihi 10% dari modal disetor perseroan.

  • Durasi: 12 bulan sejak tanggal persetujuan RUPST.

Manajemen menjamin bahwa pengeluaran dana sebesar Rp5 triliun ini tidak akan mengganggu stabilitas keuangan perseroan. BCA memastikan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) tetap berada di atas batas yang dipersyaratkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Pelaksanaan shares buyback ini tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha Perseroan,” tambah Hera.

Para analis menilai langkah ini sebagai sinyal positif bahwa manajemen menganggap harga saham BBCA saat ini masih memiliki ruang pertumbuhan (undervalued) atau sebagai strategi manajemen permodalan yang efisien mengingat posisi kas perusahaan yang sangat kuat. (***)