Oleh: Dr. Minhatul Ma’arif, M.Pd. (Akademisi Universitas Bina Bangsa)
KERUSAKAN lingkungan yang terus terjadi di berbagai wilayah menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan modern belum sepenuhnya mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Deforestasi, pencemaran sungai, dan eksploitasi sumber daya alam berlangsung semakin masif seiring meningkatnya kebutuhan ekonomi. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat adat Baduy di Banten menghadirkan contoh penting tentang bagaimana budaya dapat menjadi fondasi konservasi lingkungan. Melalui tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, masyarakat Baduy membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Tradisi lisan dalam masyarakat Baduy hidup melalui petuah adat, ungkapan pamali, serta pikukuh yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai tersebut mengatur hubungan manusia dengan lingkungan, seperti larangan merusak hutan, menjaga sumber mata air, tidak menggunakan bahan kimia berlebihan, dan hidup secara sederhana sesuai keseimbangan alam. Seluruh aturan itu tidak disampaikan melalui sistem hukum tertulis, melainkan melalui bahasa dan praktik kehidupan sehari-hari. Inilah yang menjadikan tradisi lisan Baduy memiliki fungsi penting sebagai media pendidikan ekologis berbasis budaya yang tumbuh dari pengalaman kolektif masyarakat adat sendiri.
Keberhasilan masyarakat Baduy menjaga kawasan adatnya hingga saat ini menunjukkan bahwa konservasi lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan formal dan teknologi modern. Budaya memiliki kekuatan besar dalam membentuk perilaku masyarakat terhadap alam. Ketika nilai-nilai ekologis tertanam dalam tradisi dan kehidupan sosial, maka kesadaran menjaga lingkungan tumbuh secara alami sebagai bagian dari identitas komunitas. Dalam konteks ini, tradisi lisan Baduy dapat dipahami sebagai model konservasi berbasis budaya yang menempatkan alam bukan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.
Namun demikian, perkembangan zaman menghadirkan tantangan terhadap keberlangsungan tradisi tersebut. Arus modernisasi dan budaya digital perlahan memengaruhi pola hidup generasi muda, termasuk cara mereka memandang adat dan tradisi lisan. Tidak sedikit yang mulai menganggap petuah adat dan pamali sebagai sesuatu yang kuno serta tidak sesuai dengan kehidupan modern. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka yang hilang bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sistem pengetahuan ekologis yang selama ini menjaga kelestarian lingkungan masyarakat adat. Oleh sebab itu, diperlukan upaya dokumentasi, pendidikan budaya, dan penguatan literasi ekologis agar tradisi lisan tetap hidup dan dipahami relevansinya oleh generasi masa kini.
Pada akhirnya, masyarakat Baduy memberikan pelajaran penting bahwa budaya dapat menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Tradisi lisan yang diwariskan leluhur bukan sekadar simbol adat, melainkan bentuk pengetahuan ekologis yang telah teruji oleh waktu. Sudah saatnya masyarakat memandang tradisi lisan bukan sebagai peninggalan masa lalu yang usang, tetapi sebagai sumber nilai dan kebijaksanaan dalam menghadapi krisis lingkungan global. Dengan mempertahankan tradisi lisan dan kearifan lokal, masyarakat tidak hanya menjaga identitas budaya bangsa, tetapi juga ikut merawat masa depan lingkungan untuk generasi yang akan datang.
Serang, 21 Oktober 2025























