Doddy Fathurahman, Regional General Manager Archipelago Banten Area

SERANG, TUNTASMEDIA.COM – Ramadan belum lagi tiba, namun di atas meja kerja Doddy Fathurahman, Regional General Manager Archipelago Banten Area, aroma itu sudah menjelma menjadi deretan angka dan kurva statistik yang rumit. Bagi Doddy, menyambut bulan suci bukan sekadar urusan mengganti taplak meja atau memasang dekorasi ketupat. Ini adalah palagan strategi bisnis yang harus dimainkan dengan presisi seorang ahli bedah.

“Target dan harga dilakukan berdasarkan perhitungan okupansi serta karakteristik masing-masing hotel,” ujar Doddy dengan nada tenang. Di tangannya, wilayah Banten dipetakan bukan sebagai satu kesatuan, melainkan gugusan selera yang berbeda. Anyer, Cilegon, dan Serang adalah tiga dunia yang tak bisa dipukul rata.

Anyer, dengan semilir angin laut dan debur ombaknya, memiliki watak yang unik. Di sana, hotel-hotel Archipelago adalah “pemain akhir pekan”. Doddy sadar betul, bagi warga Serang atau Cilegon, menempuh perjalanan jauh ke pesisir hanya untuk berbuka puasa di hari kerja adalah sebuah kemewahan waktu yang mustahil.

Maka, target di Anyer dipatok dengan rendah hati, realistis mengikuti ritme liburan keluarga yang biasanya baru memuncak saat Sabtu dan Minggu tiba. Di Anyer, buka puasa adalah soal pelarian sejenak dari rutinitas, bukan sekadar membatalkan lapar.

Lain Anyer, lain pula Serang. Di ibu kota provinsi ini, hotel berubah fungsi menjadi pusat gravitasi korporasi. Angka yang dipatok pun tak main-main: 13 ribu paket iftar. “Iftar ini bukan melulu di restoran,” kata Doddy.

Ia melihat cerah di balik pintu-pintu ruang pertemuan (meeting room). Tren tahun ini bergeser; permintaan bukan lagi datang dari individu-individu yang mencari meja pojok yang sunyi, melainkan dari rombongan besar perusahaan yang ingin menjahit kembali tali silaturahmi. Maka, setiap jengkal ruang di Serang—yang menyandang status convention center hotel—disulap menjadi ruang makan yang hangat.

Namun, urusan angka tentu tak bisa dilepaskan dari urusan kantong. Herdiani, Direktur Sales & Marketing Aston, berdiri di balik skema harga yang luwes namun kompetitif. Ia menyebut angka seragam sebesar Rp248.000 sebagai standar “seragam”.

Namun, khusus untuk Serang yang lebih formal, harga bisa melonjak mulai dari Rp300.000 per kepala. Di sini, negosiasi adalah kunci. “Negotiable to sales discretion,” tambahnya—sebuah kode diplomatis bahwa harga bisa melunak bergantung pada besarnya grup dan tanggal yang dipesan.

Agar tak kering hanya dengan urusan “cuan”, Aston menyuntikkan nyawa lewat tema-tema eksotis. Ada SaharaAl-Karimah, hingga petualangan Aladdin. Tujuannya satu: menciptakan rumah kedua. “Intinya adalah menyambut tamu dengan kehangatan, seperti menyambut tamu di rumah sendiri,” tutur Herdiani. (***)

Reporter: Rizal 

Redaktur: Rizal