SERANG, TUNTASMEDIA.COM – Di sebuah sudut dapur Aston Serang Hotel & Convention Center, kepulan uap mulai beradu dengan aroma panggangan yang menggoda. Di sana, sebuah bejana berisi pasir panas tampak tenang, namun di atasnya, sebuah teko tembaga kecil sedang menunggu momentum. Ini bukan sekadar ritual pagi, melainkan persiapan untuk menghadirkan The Real Turkish Coffee—sebuah atraksi kopi pasir tradisional yang diklaim sebagai yang pertama di Kota Serang.
Bagi manajemen Aston Serang, Ramadan 2026 bukan sekadar rutinitas mengganti menu takjil. Di bawah tajuk “Al-Karamah”, mereka sedang menyusun sebuah “Gebrakan Iftar” yang ambisius. Angka 13.000 menjadi mantra yang diulang-ulang. Itulah target kunjungan yang dipatok—sebuah lompatan dari capaian 11.900 kunjungan pada tahun sebelumnya.
“Kami ingin memberikan Kualitas Pelayanan dan Barang (KPB) yang lebih dari apa yang kami janjikan,” ujar Muhammad Rajab, Director of Operations Aston Serang, dalam konferensi pers, Jumat, 30 Januari 2026. Nada suaranya mantap, menyiratkan kepercayaan diri seorang jenderal lapangan yang telah menyiapkan pasukannya selama empat bulan terakhir.
Siasat bisnis Rajab terbilang berani. Ia tak lagi hanya mengandalkan nasi kebuli atau gorengan hangat yang lazim ditemui. Tahun ini, ia memboyong enam pilar cita rasa dunia ke atas meja buffet: mulai dari sentuhan liris Vietnam, ketajaman rasa Korea dan Jepang, hingga kehangatan Malaysia dan Arab.
“Saya bahkan mendatangkan alat khusus untuk Roti Siew,” tambahnya. Roti panggang itu akan disajikan lewat live cooking, sebuah teater kuliner yang dirancang untuk menjamin kesegaran sekaligus memanjakan mata tamu.
Ketelitian ini rupanya berakar dari hierarki tertinggi. Di Aston Serang, urusan lidah adalah urusan harga diri. Rajab menceritakan bagaimana sang pemilik dan CEO memiliki latar belakang sebagai koki. Hasilnya? Standar yang nyaris tanpa ampun. Sebuah menu bisa diuji coba hingga sepuluh kali jika dianggap belum sesuai dengan “lidah manusia”—sebuah standar perfeksionisme yang membuat Rajab berani mengadu rasa masakannya dengan hotel-hotel mentereng di Jakarta.
Di lini belakang, Executive Chef Iwan Irawan telah merancang “siklus tujuh hari”. Dengan total 85 item menu, ia memastikan tak ada tamu yang akan menemui hidangan yang sama jika datang dua kali dalam seminggu. Salah satu eksperimennya yang paling mencolok adalah Ayam Tiga Gaya—sebuah komposisi tunggal yang menyatukan teknik masak Tionghoa, Barat, dan Nusantara dalam satu piring.
Namun, daya tarik sesungguhnya mungkin terletak pada apa yang mengalir di dalam gelas. Rudi Kurniawan, F&B Manager, telah menyiapkan barisan barista khusus untuk menjinakkan kopi Turki di atas pasir panas. Tak berhenti di sana, ia sedang menunggu tibanya alat khusus “Gurih” untuk menghadirkan atraksi Chai Tea khas India yang sempat viral di jagat TikTok. Ini adalah strategi “marketing mulut ke mulut” yang dirancang secara sadar; menciptakan kejutan yang membuat tamu tak tahan untuk tidak mengunggahnya ke media sosial.
Urusan kantong pun dihitung dengan cermat. Di tengah kemewahan 85 item menu internasional itu, Aston tetap bermain di angka psikologis yang kompetitif. Harga dipatok Rp248.000 net per orang, namun bagi mereka yang gesit, ada flash sale di harga Rp198.000 untuk minggu pertama dan terakhir Ramadan.
Malam itu, di Aston Serang, Ramadan tidak hanya disambut dengan doa, tapi juga dengan kalkulasi bisnis yang matang dan aroma kopi yang mendidih di atas pasir. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa dari 13.000 orang yang datang nanti, tak ada satu pun yang pulang dengan rasa hambar.(***)
Reporter: Rizal Fauzi
Redaktur: Rizal Fauzi























