Oleh: Sakti Andayani, Mahasiswa Prodi Magister Manajemen Pendidikan (M.Pd) Universitas Bina Bangsa (Uniba)

PERKEBANGAN Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir bergerak jauh melampaui ekspektasi banyak kalangan. Kehadiran AI generative yang mampu menulis esai, merangkum buku, membuat soal ujian, bahkan menyusun rencana pembelajaran telah memasuki ruang-ruang kelas, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pertanyaannya kemudian menjadi relevan: apakah AI merupakan ancaman bagi profesi guru, atau justru mitra strategis dalam transformasi pembelajaran?

Kemunculan platform seperti OpenAI dengan produknya ChatGPT, serta integrasi AI dalam ekosistem Google dan Microsoft, telah mengubah cara peserta didik mengakses informasi. Kini, siswa tidak lagi sekadar “mencari” informasi, tetapi dapat “meminta” mesin menyusunnya dalam format akademik yang rapi dan argumentatif.

Dalam konteks pendidikan, AI generatif menawarkan beberapa potensi besar:

  1. Personalisasi Pembelajaran AI mampu menyesuaikan materi dengan tingkat kemampuan siswa.
  2. Efisiensi Administratif Guru dapat memanfaatkan AI untuk menyusun RPP, bank soal, atau rubrik penilaian.
  3. Akses Pengetahuan yang Luas Siswa memperoleh referensi yang lebih variatif dalam waktu singkat.

Namun, di balik peluang tersebut, tersimpan risiko serius jika tidak diimbangi literasi digital dan etika akademik yang kuat.

Etika Akademik: Antara Kemudahan dan Kecurangan

Isu paling krusial dari penggunaan AI generatif adalah integritas akademik. Ketika siswa menyerahkan tugas yang sepenuhnya disusun oleh mesin, muncul pertanyaan mendasar: di mana letak proses berpikir kritisnya?

Praktik “copy paste berbasis AI” berpotensi melahirkan generasi yang instan, tetapi rapuh dalam analisis. Dalam jangka panjang, ketergantungan tanpa kontrol dapat menggerus kemampuan menulis, bernalar, dan merefleksikan gagasan secara mandiri.

Karena itu, lembaga pendidikan perlu merumuskan kebijakan yang jelas, misalnya: Transparansi penggunaan AI dalam tugas, Penguatan asesmen berbasis proses bukan hanya produk akhir, dan Integrasi literasi AI dalam kurikulum. AI tidak boleh diposisikan sebagai jalan pintas akademik, melainkan sebagai alat bantu intelektual yang tetap menempatkan manusia sebagai subjek utama pembelajaran.

Peran Guru di Era Digital: Tidak Tergantikan

Ada kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran guru. Pandangan ini, menurut saya, terlalu reduktif. Pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan proses pembentukan karakter, nilai, dan kebijaksanaan. Guru memiliki tiga peran strategis yang tidak dapat digantikan mesin:

  1. Fasilitator Pembelajaran Bermakna

AI dapat menyediakan informasi, tetapi guru yang mengarahkan diskusi, mengaitkan teori dengan konteks lokal, dan menumbuhkan empati.

  1. Penjaga Etika dan Integritas

Guru menjadi role model dalam penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

  1. Pembimbing Karakter

Pembentukan nilai, sikap, dan moral tidak dapat diotomatisasi. Interaksi manusiawi tetap menjadi inti pendidikan.

Justru di era AI, peran guru semakin strategis: bukan lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai kurator, mentor, dan navigator pembelajaran.

Transformasi, Bukan Eliminasi

Sejarah pendidikan menunjukkan bahwa setiap teknologi baru dari mesin cetak hingga internet selalu memunculkan resistensi awal. Namun pada akhirnya, teknologi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran. AI generatif adalah alat. Ia bisa menjadi ancaman jika digunakan tanpa etika dan regulasi. Namun ia juga dapat menjadi mitra transformasi jika dikelola dengan visi pedagogis yang jelas. Kuncinya bukan pada pertanyaan “apakah AI menggantikan guru?”, melainkan “bagaimana guru memanfaatkan AI untuk memperkaya pengalaman belajar?”.

Sebagai pendidik yang telah lebih dari empat dekade berada di dunia akademik, saya meyakini satu hal: teknologi boleh berubah, tetapi esensi pendidikan tetap sama membentuk manusia yang berpikir kritis, berintegritas, dan berkarakter. AI tidak akan menggantikan guru. Tetapi guru yang tidak memahami AI, berisiko tertinggal oleh zaman. Dan di titik inilah, transformasi menjadi keniscayaan.(***)