SERANG, TUNTASMEDIA.COM – Di Desa Ranjeng, Kecamatan Ciruas Kabupaten Serang, aroma sisa banjir masih menggelayut di udara. Namun, pada Minggu siang itu, perhatian warga sedikit teralihkan oleh iring-iringan truk pengangkut logistik. Sebanyak 14 ton beras diturunkan, menjadi simbol kecil dari upaya kolaborasi antara eksekutif dan legislatif Kabupaten Serang untuk meredam dampak bencana yang terus berulang.

Sebanyak 1.400 Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut menjadi sasaran distribusi. Polanya menarik: bantuan ini adalah “patungan” kekuasaan dan kepedulian antara eksekutif dan legislatif. Dari total 14.000 kilogram beras, 10.000 kilogram bersumber dari lumbung Pemerintah Daerah, sementara 4.000 kilogram sisanya merupakan donasi pribadi anggota DPRD, Camat Ciruas Yuli Saputra, hingga tokoh desa seperti Ketua Kopdes H. Cahyadi dan Kades Sapta Maulana.

Ahmadi, Wakil Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Serang, menyebut langkah ini sebagai bentuk sinergi yang tak bisa ditunda. Di tengah keterbatasan anggaran daerah, komunikasi intens dengan Bupati dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Sosial serta Dinas Pertanian menjadi kunci.

“Kami konsen membantu warga yang terkena musibah, meski anggaran terbatas,” ujar Ahmadi di sela-sela pembagian bantuan.

Namun, di balik seremonial pembagian beras, terselip nada kritik yang dialamatkan pada akar masalah banjir di Serang: pendangkalan sungai. Ahmadi, yang pada periode lalu duduk di Komisi 4, mengingatkan kembali “dosa” lama terkait tata kelola air. Ia menuding Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kerap salah dalam menentukan prioritas.

“Ratusan hingga ribuan sungai di Kabupaten Serang itu kewenangan Balai Besar, dan mayoritas sudah mengalami pendangkalan parah,” ungkapnya dengan nada serius.

Menurut Ahmadi, pihak berwenang selama ini justru lebih sibuk mengurusi pembangunan drainase dan Tembok Penahan Tanah (TPT), sementara urusan vital seperti normalisasi sungai besar terabaikan.

Bagi Ahmadi dan para pemangku kebijakan di Serang, banjir kali ini harus menjadi pelajaran pahit yang memicu kepekaan. Sebelum mendarat di Ciruas, bantuan serupa telah menyisir wilayah terdampak lainnya seperti Pontang, Carenang, Binuang, hingga Cikande dan Kopo. Tujuannya satu: memastikan warga tidak lapar di tengah kepungan air, sembari menagih janji pusat untuk serius membenahi sungai-sungai yang kini kian dangkal. (*)

Redaktur: Rizal Fauzi

Reporter: Firo