Mendengar Lebih Dekat, Perjalanan Panjang Helen Menemukan Dirinya

0
41

SIANG itu, Warung Tangga, tempat nongkrong sederhana yang terkenal dengan suasana santainya, dipenuhi aroma masakan dan suara gelak tawa pengunjung.

Di sana, orang-orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk istirahat sejenak dari hiruk-pikuk hidup. Di salah satu sudut yang agak teduh, Helen duduk sambil menunggu Strawberry Milk yang dipesannya.

Di tempat yang jauh dari hiruk kampus itu, perlahan-lahan ia membuka cerita tentang perjalanan hidupnya. Suaranya tenang, sesekali diselingi senyum, seolah apa yang ia jalani selama bertahun-tahun akhirnya menemukan ruang untuk diceritakan.

“Dulu saya bukan anak yang aktif, lebih suka duduk di kelas, belajar, dan pulang. Kegiatan? Organisasi? Kayaknya bukan saya banget,” ujarnya.

Helen menceritakannya sambil memandang lalu-lalang orang di sekitar Warung Tangga, anak muda dengan ransel, karyawan yang istirahat makan siang, dan beberapa pengunjung yang sibuk bekerja dengan laptop. Tempat itu jauh dari suasana akademik Farmasi yang serius, tetapi justru di situlah cerita perjuangannya terasa lebih dekat.

Ketika masuk dunia perkuliahan, arah hidup Helen pelan-pelan berubah. Lingkungan yang baru, teman-teman yang aktif, dan kesempatan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya memaksanya keluar dari zona nyaman.

Ia mencoba mengisi waktunya dengan hal-hal yang dulu terasa asing, organisasi, kepanitiaan, kegiatan sosial, juga pelatihan-pelatihan yang menuntut keberanian lebih besar daripada sekadar angkat tangan di kelas.

“Yang paling sulit itu manajemen waktu dan lawan rasa takut gagal. Tetapi saya pikir, kalau terus nunggu siap, ya nggak bakal mulai-mulai.” ucapnya sambil menyeruput minuman yang dipesannya.

Ia mulai menantang dirinya dengan mengikuti kompetisi dan menulis proposal Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM). Tidak semua usahanya berjalan mulus, ada hari-hari ketika ia kelelahan, ada masa ketika ia ingin kembali menjadi mahasiswa biasa yang tidak banyak urusan, tetapi ia memilih bertahan.

Dari proses panjang itu, muncullah pencapaian yang hari ini sering dikaitkan dengan namanya. Pada 2023, Helen lolos pendanaan PKM-Kewirausahaan dengan inovasi KOPIT SEHAT, minuman kopi Arabika Aceh dengan kunyit sebagai pencegah diabetes dan hipertensi, dipasarkan melalui strategi digital marketing.

Tahun yang sama, ia kembali meraih pendanaan PKM-Karsa Cipta untuk 3in1 Mihuband, smartband pendeteksi kantuk berbasis IoT.

Warung Tangga mulai dipenuhi suara piring berdenting dan pelanggan yang berdatangan. Namun Helen tetap melanjutkan ceritanya, kali ini dengan nada yang lebih pelan, bagian yang biasanya jarang ia ungkapkan.

“Saya pernah gagal banyak kali, ditolak jadi asisten lab, ga lolos beasiswa, kalah lomba, sampai ada masa ngerasa capek banget kayak mau berhenti,” katanya sambil tersenyum.

“Tapi ternyata, gagal itu bukan akhir. Kadang cuma tanda kalau waktunya belum pas,” lanjutnya.

Dari kegigihan itulah Helen menembus batas yang bahkan tidak pernah ia impikan semasa SMA. Beberapa penelitiannya terbit di jurnal internasional terindeks Scopus. Ia menyelami potensi senyawa alami, teknologi farmasi, dan inovasi kesehatan. Ia belajar bahwa kontribusi tidak selalu datang dalam bentuk yang besar, terkadang lewat penelitian kecil yang dikerjakan dengan sepenuh hati.

Kini, setelah menamatkan studinya, Helen membawa tiga nilai yang ia rangkum dari seluruh proses itu, disiplin, konsisten, dan pantang menyerah. Nilai yang ia temukan bukan di ruang kuliah, bukan di laboratorium, tetapi justru melalui perjalanan panjang keluar-masuk berbagai tantangan hidup.

“Prestasi itu bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang nggak berhenti melangkah,” katanya sambil meneguk minumannya yang hampir habis.

Warung Tangga semakin ramai. Ada yang baru datang, ada yang baru pulang. Di tengah riuh sederhana itu, cerita Helen terasa seperti pengingat bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing, ada yang mulus, ada yang terjal, ada yang lambat tetapi pasti.

Dan kadang, kisah yang paling kuat justru diceritakan di tempat nongkrong sederhana, pada siang hari yang hangat, ketika seseorang akhirnya berani melihat kembali seluruh perjalanan hidupnya. (**)

Reporter: Ghina

Redaktur: Rizal