SITUS Batu Tulis Muruy di Kampung Muruy, Desa Muruy, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, saat ini mulai ramai dikunjungi wisatawan.
Menurut sejarah, situs Batu Tulis Muruy merupakan peninggalan dari Kerajaan Pucuk Umun.
Karena batu dengan aksara Arab itu tertulis “Atol Hamam Anabu Alwau Sanatun” dibuat oleh Pucuk Umun pada tahun 1161 Masehi,
Situs tersebut juga pada masa Kesultanan Banten pernah menjadi tempat singgah Sultan Banten Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin dalam menyebarkan agama Islam di Banten, sebelum Sultan Hasanudin.
Masih dalam catatan sejarah, selain Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin ada Nyi Kamilah, keturunan Sultan Banten yang juga pernah singgah di Batu Tulis untuk menyebarkan syiar Islam serta untuk menghindari dari penjajahan Belanda.
Situs Batu Tulis itu sebelumnya ditemukan oleh warga pada 1980-an. Saat itu Situs Batu Tulid ditemukan dari lilitan akar pohon besar. Kemudian batu itu diangkat dari lilitan akar dan dibangun oleh pemerintah.
Salah seorang kuncen Situs Batu Tulis, Hardi menerangkan, Batu Tulis Muruy dibuat oleh Raja Pucuk Umun pada tahun 1161 Masehi. Situs itu juga pernah menjadi persinggahan Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin dalam melakukan syiar Islam. Sebab pada masa itu, warga sekitar mayoritas memeluk agama Hindu dan Budha.
“Tujuan Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin singgah di lokasi situs untuk menyebarkan agama Islam di Banten dan usaha Sultan itu berhasil,” ungkap Hardi saat ditemui di Situs Batu Tulis Muruy, Sabtu (06/10/2017).
Menurutnya, sejarah Batu Tulis itu merupakan lokasi singgah Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin Banten. Namun untuk yang membuat taksara Arab di atas batu itu adalah Kerajaan Pucuk Umun.
Keberadaan situs tersebut sekarang ini sudah banyak diketahui masyarakat, karena tidak sedikit warga yang berkujung ke lokasi. Karena memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi, situs Batus Tulis Muruy juga kerap dijadikan lokasi observasi oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
“Sekarang lokasi situs banyak dikunjungi warga, bahkan sering ada juga pengunjung yang memiliki maksud tertentu. Karena konon Batu Tulis itu memiliki nilai mistis,” katanya.
Lanjut dia, di lokasi ada larangan bagi pengunjung, seperti tidak boleh naik ke Batu Tulis dan merusak lingkungan.
Jika ada yang melanggar, kata Hardi, maka pelanggar bisa tertimpa musibah.
“Kalau yang mau berkunjung ke lokasi itu memiliki niat buruk maka tidak akan bisa masuk. Sebab dulu pernah ada lima orang yang hendak berkunjung ke lokasi, empat orang bisa masuk sementara satu lagi tidal bisa masuk,” pungkasnya.
Redaktur : A Supriadi
Reporter : Samsul Fathoni























