SERANG, TUNTASMEDIA.COM – Di sebuah sudut ruangan yang sarat dengan tumpukan buku dan kenangan, Andi Yudi Hendriawan menatap lekat sebuah potret tua. Dalam bingkai itu, nampak sosok H.M. Irsjad Djuwaeli—sang ayah—sedang berorasi di mimbar Mathla’ul Anwar dengan sorot mata yang tajam namun meneduhkan. Bagi Andi, potret itu bukan sekadar penghias dinding; itu adalah sebuah kompas.
Kini, menjelang Muktamar XXI Mathla’ul Anwar yang akan digelar pada 11-13 April 2026, Andi yang lebih akrab disapa Andi Djuwaeli, bersiap melangkah ke mimbar yang sama. Bukan untuk sekadar meneruskan nama besar, melainkan untuk menjemput takdir pengabdian di organisasi yang kini genap berusia 110 tahun.
Darah Perjuangan dan Nafas Pendidikan
Sejarah Mathla’ul Anwar adalah sejarah tentang keteguhan. Sejak didirikan pada 1916 di Menes, organisasi ini telah menjadi kawah candradimuka bagi para pejuang peradaban. H.M. Irsjad Djuwaeli, mantan Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar, adalah salah satu arsitek yang memastikan api organisasi ini tetap menyala di masa-masa sulit.
Kini, darah perjuangan itu mengalir deras pada putra beliau. Andi tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa misi bertajuk “Membangkitkan Kembali Semangat Juang,” sebuah narasi yang sangat akrab di telinga para kader senior yang pernah berjuang bersama ayahnya.
“Saya besar di lingkungan madrasah. Saya melihat bagaimana Ayah mencurahkan seluruh hidupnya untuk dakwah dan sosial. Di usia 110 tahun Mathla’ul Anwar, tugas kita adalah memastikan bahwa warisan nilai ini tidak hanya menjadi pajangan sejarah, tapi menjadi energi untuk membangun peradaban modern,” ujar Andi dengan nada suara yang mengingatkan banyak orang pada karisma almarhum ayahnya.
Antara Khitah dan Modernitas
Majunya Andi Djuwaeli bukan tanpa tantangan. Ia memikul beban ekspektasi untuk membawa Mathla’ul Anwar melampaui seabad usianya. Visinya jelas: transformasi. Ia ingin melihat madrasah-madrasah Mathla’ul Anwar menjadi episentrum pendidikan yang melek teknologi, namun tetap memiliki akar moral yang kokoh.
“Ayah selalu berpesan, Mathla’ul Anwar harus menjadi ‘tempat terbitnya cahaya’. Cahaya itu hari ini adalah ilmu pengetahuan yang adaptif, kemandirian ekonomi umat, dan dakwah yang merangkul semua golongan,” tambahnya.
Keterikatan emosional antara sosok Andi dan sejarah panjang sang ayah menjadi magnet tersendiri bagi para muktamirin. Banyak yang melihat sosok Andi sebagai jembatan—seorang figur yang mampu merangkul para sesepuh dengan rasa hormat, sekaligus menggandeng generasi muda dengan inovasi.
Menuju Muktamar XXI
Di sela-sela persiapan Muktamar, Andi kerap terlihat berdiskusi dengan para tokoh senior, mendengarkan wejangan sebagaimana ia dulu mendengarkan nasihat ayahnya di meja makan. Baginya, Muktamar di Serang nanti bukan sekadar ajang pemilihan ketua umum, melainkan momentum rekonsiliasi akbar untuk “pulang ke rumah” bagi seluruh kader.
Saat Muktamar XXI dimulai esok hari, Andi Djuwaeli tidak hanya membawa visi dan misinya. Ia membawa serta bayang-bayang keteladanan sang ayah, semangat 110 tahun pengabdian, dan sebuah janji: bahwa cahaya Mathla’ul Anwar akan terus bersinar, lebih terang dari sebelumnya.
Di usia satu abad lebih satu dekade ini, sebuah babak baru siap ditulis. Dan di garis depan, seorang anak ideologis sekaligus biologis, siap melanjutkan estafet peradaban itu. (***)
Reporter: Rizal Fauzi
Redaktur: Rizal Fauzi























