Satu tahun sudah duet Dewi-Iing menakhodai Pandeglang, namun bagi massa aksi, wangi janji kampanye mulai menguap, berganti aroma kecemasan dari ruang-ruang kelas yang kosong.
Nestapa di Balik Angka
Di bawah kepungan orasi, sebuah angka mengerikan meluncur dari pengeras suara: 42.415. Itulah jumlah anak-anak Pandeglang yang terpaksa menanggalkan seragam sekolah mereka. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik di atas kertas buram dinas pendidikan, melainkan potret masa depan yang sedang dipasung.
“Data ini adalah sinyal kuat. Pandeglang butuh intervensi, bukan sekadar seremoni,” seru Dandi Ramadhan, sang koordinator lapangan, di tengah riuh rendah yel-yel mahasiswa.
Dandi tak sedang melebih-lebihkan. Di balik kemegahan kantor bupati, kemiskinan masih mencekik 8,51 persen warga—sekitar 105 ribu jiwa yang setiap harinya harus bertaruh antara mengisi perut atau membiayai buku sekolah.
Di wilayah terpencil, ketimpangan infrastruktur menjadi tembok tebal yang memisahkan anak-anak desa dari akses ilmu pengetahuan.
Mahasiswa membawa lima poin krusial yang mereka sebut sebagai “Deklarasi Darurat Pendidikan”:
- Status Darurat Pendidikan: Mendesak pemerintah mengakui kegagalan sistemik dalam menekan angka putus sekolah.
- Wajib Belajar Inklusif: Pembiayaan penuh bagi keluarga prasejahtera agar tak ada lagi alasan “biaya” untuk berhenti sekolah.
- Keadilan Anggaran: Menuntut alokasi dana pendidikan dialirkan ke pelosok-pelosok yang selama ini terlupakan.
- Satgas Desa: Pembentukan Satuan Tugas Pencegahan Putus Sekolah yang bekerja hingga ke akar rumput (desa/kelurahan).
- Transparansi Bantuan: Menutup celah korupsi dalam penyaluran bantuan pendidikan agar tepat sasaran.
Menanti Jawaban Konkret
Bagi PMII Syekh Manshur, solusi tak bisa lagi hanya mengandalkan anggaran daerah yang terbatas. Mereka menuntut kolaborasi vertikal—dari pusat hingga provinsi—untuk turun tangan membereskan benang kusut di Pandeglang.
Hingga matahari meninggi, suara-suara dari jalanan itu masih menggema. Mereka tidak sedang merayakan satu tahun kepemimpinan dengan karangan bunga, melainkan dengan tuntutan agar generasi mendatang tak sekadar menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri.(*)
Redaktur: Rizal Fauzi
Reporter: Agus Djale























