Oleh Mahdiduri*)
KEBARUAN APA YANG ADA DI LOMBA DESAIN LOGO HUT BANTEN TAHUN 2026 INI?
Dari tahap persiapan, juri dengan panitia menyepakati beberapa hal, diantaranya adalah status lomba berubah dari regional (Khusus Banten) menjadi nasional. Hal ini dilakukan untuk memberi ruang para desainer grafis di Indonesia untuk turut merayakan HUT Banten melalui karya terbaiknya, selain itu juga dengan dibukanya secara umum, diproyeksikan lomba ini akan mejadi ajang serius dan prestise bagi desainer grafis Banten untuk bersaing lebih luas lagi.
Selain itu, semangat keterbukaan informasi publik juga diterapkan melalui penyedian web khusus lomba yang menyediakan informasi seperti juknis, dewan juri serta informasi lainnya terkait lomba, uploading di instagram dengan tagar #logobanten26 memungkinkan masyarakat bisa melihat langsung karya-karya yang dikirimkan ke panitia. Begitu juga dengan pengumuman finalis 5 besar diumumkan disertai dengan preview logonya.
Salah satu syarat lomba logo HUT Banten ke 26 ini adalah para peserta diarahkan untuk mengekplorasi ragam hias Banten. Dipilihnya ragam hias Banten sebagai bobot utama dalam penilaian dimaksudkan sebagai:
Pertama, Representasi Identitas sejarah dan budaya lokal, setiap motifnya mengandung nilai sejarah, filosofi, dan estetika unik. Kedua, Pelestarian dan Pengembangan Warisan Budaya. Melalui lomba ini, ragam hias Banten tidak hanya dikenang sebagai artefak masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali dalam konteks modern. Peserta lomba, terutama generasi muda, akan didorong untuk mempelajari, memahami, dan menginterpretasikan kembali motif-motif tradisional ke dalam desain yang kontemporer dan relevan dengan zaman.
Ketiga, secara bentuk visual, Kombinasi antara bentuk geometris yang stabil dan elemen organik yang dinamis dari ragam hias Banten menyediakan fondasi visual yang kuat, unik, dan sarat makna budaya, bisa diolah dalam berbagai jenis logo (Ambigram, Emblem, Wordmark).
APAKAH LOGO HUT PROVINSI ITU HARUS MEMUNCULKAN ELEMEN GRAFIS TIAP KAB/KOTA?
Jawabannya adalah tidak harus, karena Logo HUT Provinsi harus berbicara pada level provinsi; Logo HUT Provinsi Banten idealnya merepresentasikan identitas kolektif Banten, bukan menjadi semacam “peta visual” yang wajib memuat seluruh identitas kabupaten/kota. Kalau semua daerah harus diwakili secara literal, logo berpotensi menjadi terlalu ramai. Akibatnya hierarki visual, kesederhanaan, daya ingat logo bisa hilang, dan cenderung hanya menjadi katalog ikon.
BAGAIMANA DENGAN KARYA-KARYA YANG MASUK DALAM LOMBA DESAIN LOGO HUT BANTEN KE 26 INI?
Lomba tahun ini diikuti sekitar 220 peserta dari berbagai daerah dengan porsi peserta dari Banten sebanyak 26,5%, sedangkan dari luar Banten sebanyak 73,5%. Adapun dari sisi gender, peserta pria sebanyak 92,2%, wanita sebanyak 7,8%. Keragaman asal peserta menunjukkan bahwa lomba desain logo ini tidak hanya menjadi ruang partisipasi masyarakat Banten, tetapi juga mendapatkan perhatian dari masyarakat di luar Provinsi Banten.
Sementara itu dari jenis desain logo yang dikirimkan peserta, terdapat tiga kelompok besar, yakni: 1) Menjadikan angka 26 sebagai identitas; kelompok ini yang menurut saya paling sehat secara branding. Angka 2 dan 6 tidak hanya ditulis sebagai angka, tetapi dijadikan visual device, dengan ciri-ciri: 2 dan 6 saling mengunci, membentuk figur, angka menjadi monogram, angka dikombinasikan dengan bentuk organik; angka membentuk simbol infinity/gerak.
2) Memadukan angka 26 dan identitas Banten; Kelompok ini menggunakan elemen pendukung dalam mengolah angka 26 dengan kecendrungan menampilkan ragam hias, ornamen geometris, siluet bangunan dan unsur budaya lainnya.
3) Menjadikan Angka 26 sebagai Katalog Banten dan bersifat ilustratif; Terjadi penumpukan simbol, Setiap objek ingin “menjelaskan” sesuatu, Simbol yang berbeda memiliki tingkat kepentingan yang sama, Logo menjadi seperti “miniatur poster”.
Dalam proses penilaian, juri menetapkan 5 kriteria penilaian, yakni Bentuk dan Visual, Filosofi dan Makna, Legibiltas (Keterbacaan), Warna dan Eksplorasi ragam hias Banten.
Aspek Bentuk dan Visual
Hampir semua peserta memahami bahwa angka 26 harus menjadi elemen visual utama, hal itu terlihat dari angka 26 yang dimodifikasi, dijadikan simbol, dipadukan dengan figur, dikombinasikan dengan ornamen ataupun ikon Banten. Ada beberapa peserta yang yang sudah melakukan hal yang benar secara branding “tidak sekadar menulis angka 26, tetapi mendesain angka 26”. Adapula yang memadukan angka 26 dengan ornamen plus simbol banten, sehingga banyak karya akhirnya memiliki bentuk visual yang hampir sama. Secara keterampilan visual cukup baik, tetapi tingkat diferensiasi antarlogo masih rendah.
Aspek Filosofi dan Makna
Ini bagian paling problematis, banyak karya terlihat memiliki filosofi dengan menautkan persatuan, budaya, sejarah, alam, Masyarakat, kemajuan, pesisir, heritage maupun ragam hias. Secara narasi, hampir semuanya bisa diberi penjelasan filosofis, tetapi juri menilai “Punya filosofi” dengan “Memiliki konsep yang kuat.” Itu berbeda.
Sebagian karya seperti menggunakan logika: “Saya harus memasukkan sebanyak mungkin simbol supaya maknanya lengkap.” Misalnya angka 26 + menara + badak + ombak + flora + ornamen + peta + simbol budaya yang kemudian semuanya diberikan makna. Secara filosofis memang kaya, Tetapi justru muncul pertanyaan “Apa satu gagasan utamanya?”
Logo yang baik tidak harus menceritakan seluruh Banten. Ia harus mampu mengompresi cerita besar Banten menjadi satu gagasan visual. Juri menilai lebih tinggi kepada logo yang bisa menjelaskan “Mengapa angka 26 dibuat seperti ini?”
Aspek Legibilitas (Keterbacaan)
Ada tiga persoalan yang muncul, yaitu 1) Angka 26 terlalu dimodifikasi; Eksplorasi angka memang bagus, tetapi ada titik ketika 2 tidak lagi terlihat seperti 2, atau 6 tidak lagi terlihat seperti 6. Orang membutuhkan waktu untuk menebak “Ini angka berapa?”. 2) Detail terlalu banyak; Beberapa logo mempunyai detail yang menarik ketika dilihat besar, tetapi jika diperkecil detail tersebut akan menyatu menjadi noise.
Aspek Warna
Secara umum penggunaan warna pada logo-logo peserta yang cukup ekspresif didominasi oleh merah; merah-oranye; emas; hijau; biru; kombinasi warna-warni. Warna-warna tersebut membuat kumpulan logo terlihat meriah, optimistis, seremonial, dan cocok dengan suasana HUT. Terutama warna merah/oranye/emas memberikan kesan energi; perayaan; keberanian; kejayaan. Sementara Hijau dan biru memberikan asosiasi alam; lingkungan; laut; kesejahteraan.
Tetapi ada masalah ketika Banyak peserta menggunakan terlalu banyak warna dalam satu logo. Hal ini membuat warna menjadi dekorasi daripada warna menjadi bagian dari sistem identitas. Eksplorasi warna bagus, tetapi masih banyak yang belum memiliki color discipline.
Aspek Eksplorasi Ragam Hias Banten
Ini bagian yang menurut saya paling menarik untuk membedakan peserta, Karena brief mengarahkan peserta untuk mengeksplorasi ragam hias khas Banten. Dari logo-logo yang peserta kirimkan, memiliki kecendrungan pendekatan yang berbeda. Pendekatan 1 — Ragam hias sebagai dekorasi; ragam hias belum menjadi bagian dari konsep logo, ornamen hanya ditempelkan di angka 26; latar; bagian bawah; border.
Pendekatan 2 — Ragam hias sebagai bentuk (DNA); Memadukan angka 26 dengan ornamen sebagai pembentuk logo. Peserta sudah membangun desain identitas, bukan dekorasi. Pendekatan 3 — Ragam hias disederhanakan; Ragam hias tradisional mempunyai kompleksitas tinggi, desainer kemudian melakukan observasi → abstraksi → simplifikasi → konstruksi → identitas baru. Bukan sekadar “ambil motif tradisional lalu tempel.”
MENILAI DARI YANG TERBAIK
Proses penyaringan logo dari 220 peserta menjadi 5 besar finalis, tentu bukan hasil hitung kancing, tetapi hasil dari perdebatan panjang para dewan juri dengan perspektifnya masing-masing. Meski begitu, dewan juri yang berasal dari desainer grafis, akademisi dan sejarawan tetap mengacu pada ketentuan yang sudah disepakati dari awal. Berdasarkan dari seluruh aspek penilaian, juri menilai karya Achyal Munif, Ahmad Jueni, Hendrik Ferdiansyah, Muhammad Apit Saputra dan Sofyan memiliki konsep dan narasi paling bisa dikembangkan.
Setelah dipublikasikan di media sosial, beragam respon diterima oleh panitia, banyak yang memberi selamat kepada finalis, ada pula yang masih penasaran dan bahkan ada yang begitu percaya diri membandingkan karyanya dengan karya para finalis dan itu adalah kelaziman dalam sebuah kontes.
Di sesi penetapan pemenang, dewan juri harus memeras pengetahuan, referensi dan intuisi, semua disajikan di atas meja dengan sejumput argumentasi. Hingga pada akhirnya juri menemukan titik temu menentukan 3 pemenang berdasarkan peringkat 1, 2 dan 3. Berikut adalah ulasan juri berdasarkan peringkat:
Peringkat 1 Desain logo Ahmad Jueni
Kunci kemenangan logo ini adalah kesederhanaan bentuk dan kekuatan angka 26 sebagai simbol utama. Logo tidak mencoba memasukkan semua identitas Banten ke dalam simbol. Ia memilih satu gagasan: “26 sebagai bentuk yang dinamis, tumbuh, dan bergerak ke depan”. Kemudian identitas Banten diperkuat melalui aksen bunga/ragam hias Banten dan wordmark “Banten” dalam font kaligrafis.
Angka 26 tidak dibuat dengan font biasa. Ia dikonstruksi menjadi bentuk organik seperti sapuan/pita. Akibatnya, ketika dilihat sekilas kita mendapatkan “sebuah simbol” baru kemudian “oh, itu angka 26.” Ada pula keseimbangan antara bentuk biru yang dominan, lengkungan oranye, ragam hias di bagian atas, dan teks di bawah. Komposisinya relatif bersih.
Logo ini sangat “mudah diberi narasi”, Bentuk angka yang melengkung bisa dibaca sebagai kesinambungan, pertumbuhan, perjalanan, gerak maju, optimisme, kolaborasi, dinamika pembangunan Banten. Kemudian dua warna bisa diberi hubungan konseptual; biru → stabilitas dan kepercayaan oranye → energi dan semangat Yang menarik adalah filosofinya tidak bergantung pada satu simbol literal. Tidak harus ada Menara Banten untuk mengatakan “Ini Banten.” Ini pendekatan branding yang lebih modern.
Legibilitas sangat kuat. Angka 26 masih terbaca cukup cepat, Dan logo punya kemungkinan besar untuk dibuat full logo, simbol saja, versi satu warna, versi negatif, ikon media sosial, watermark, merchandise, animasi opening, backdrop. Ini penting karena logo HUT bukan hanya gambar untuk dipajang, Ia akan hidup di banyak media.
Warna Biru dan oranye adalah kombinasi yang sangat aman sekaligus energik, Biru memberikan kesan resmi – stabil – terpercaya sementara Oranye memberikan semangat – optimisme – progresif Kontrasnya juga membuat angka mudah terlihat.
Peringkat 2 Desain logo Achyal Munif
Secara bentuk dan visual cukup menarik. Angka 26 dibentuk seperti pita/gelombang dan dikombinasikan dengan elemen arsitektur Banten. Namun mata harus memproses lebih banyak informasi, ada Menara → 26 → ragam hias → lingkaran → kepala badak.
Menara Banten memberi anchor sejarah, ragam hias memberi anchor budaya. Warna hijau memberi kemungkinan narasi lingkungan/kehidupan, angka 26 memberi konteks perayaan. Jadi ketika juri bertanya “Mana unsur Bantennya?” Jawabannya sangat mudah. Semuanya ada. Tetapi… Logo yang punya banyak makna belum tentu menjadi logo yang paling efektif.
Detail terlalu bergantung pada ukuran. Ragam hias di dalam angka itu bagus ketika dilihat besar, tetapi saat logo diubah ukurannya menjadi 3 cm × 3 cm, detail tersebut mulai kehilangan fungsi, dan untuk sebuah identitas visual, itu masalah.
Peringkat 3 Desain logo Sofyan
Begitu dilihat, warnanya langsung menghantam. Merah + kuning menegaskan sifat berani, panas, energik, meriah. Cocok dengan karakter logo perayaan. Bentuknya juga punya gesture yang menarik. Narasinya sederhana; 26 tahun → semangat → kobaran → masa depan. Tetapi hubungan dengan kekhasan Banten lebih abstrak, Ia bisa saja menjadi logo HUT sebuah provinsi lain.
KEPERCAYAAN DAN HARGA DIRI
Trust dalam identitas sebuah provinsi berarti adanya rasa percaya terhadap pemerintah, percaya terhadap masa depan daerah, dan percaya terhadap kekuatan masyarakatnya sendiri. Untuk logo HUT ke-26, konsep ini relevan karena perayaan ulang tahun provinsi bukan sekadar menandai pertambahan usia, melainkan 26 tahun sebagai perjalanan membangun kepercayaan. Kepercayaan tersebut dapat diterjemahkan secara visual melalui bentuk yang stabil dan seimbang, konstruksi yang solid, garis yang konsisten, warna yang meyakinkan dan tidak berlebihan, serta tipografi yang jelas dan mudah dibaca.
Jadi secara desain kepercayaan harus terasa sebelum dijelaskan. Kalau logo terlihat kacau, terlalu rumit, atau terlalu dekoratif, pesan kepercayaan justru melemah.
Banten mempunyai sejarah, kebudayaan, dan identitas yang kuat. Karena itu logo HUT tidak seharusnya hanya terlihat meriah, tetapi juga memiliki rasa bangga, bermartabat, dan berkarakter. Dignity dapat diwujudkan melalui bentuk yang tegas, komposisi yang proporsional, penggunaan simbol budaya secara terhormat, tipografi yang memiliki otoritas, dan visual yang tidak mengikuti tren secara berlebihan. Ini penting! Ada perbedaan antara “logo yang meriah” dengan “logo yang membanggakan.”
Ragam hias Banten bukan hanya dekorasi, ia bisa kita perlakukan sebagai representasi harga diri karena ia membawa jejak budaya → sejarah → identitas → warisan. Sedangkan konstruksi modern dari motif tersebut dapat merepresentasikan kepercayaan karena bentuknya kita susun dengan keteraturan → keseimbangan → konsistensi → stabilitas.
Jadi Ragam hias Banten adalah akar dan martabat, geometri modern adalah stabilitas dan kepercayaan. Kemudian keduanya bertemu di 26 menjadi lebih kuat daripada sekadar memasukkan motif Banten sebagai ornamen.
*) Dewan Juri, Desainer Grafis























