Buku “Sepatu Orang Lain” dibedah di Swiss

0
470

JANGAN mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita/ Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran hidup kita/ Rawan tak tepat.

Tulisan tersebut adalah salah satu dari 24 tulisan pada buku “Sepatu Orang Lain” karya Mia Saadah yang dibedah di Bern, ibukota Swiss, pada Rabu (15/11) siang. Bertempat di gedung kampus Universitas Pendidikan Bern, sekitar 30 orang diaspora Indonesia berkumpul untuk mengikuti peluncuran dan bedah buku “Sepatu Orang Lain” karya Mia Saadah. Tidak hanya berasal dari Bern, puluhan peserta juga berdatangan dari kota-kota sekitar Bern, seperti Aarau, Baden, Soloturn, dan wilayah lain di Swiss.

Buku “Sepatu Orang Lain” berisi kumpulan tulisan keseharian Mia Saadah sebagai istri diplomat ketika mendampingi tugas suami di Kedutaan Besar Republik Indoensia (KBRI) Damaskus ketika konflik Suriah bergejolak tahun 2016, kemudian dipindah-tugaskan ke KBRI Bern-Swiss tahun 2017. Tulisan “Sepatu Orang Lain” sendiri sempat viral dibagikan di ribuan kali di media sosial sejak Mei 2016 tanpa menyebutkan penulis aslinya.

“Buku ini terilhami dari berbagai kisah nyata saya sebagai ibu, anak, sahabat, perempuan, dan istri seorang diplomat,” tutur Mia Saadah, penulis Buku “Sepatu Orang Lain”. “Kesemuanya merupakan catatan harian ringan dan sederhana tentang beragam nilai-nilai kehidupan yang terinspirasi dari keseharian. Sangat sederhana, tetapi semoga tak miskin makna,” imbuh ibu dua orang anak ini.

“Saya bangga salah satu pengurus Dharma Wanita Persatuan KBRI Bern, yaitu Mia Saadah, masih tetap bisa berkarya sementara mendampingi suami bertugas. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dan banyak perempuan Indonesia lainnya,” ujar Dona Sinaga, Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Bern pada sambutan pembukaan bedah buku ini.

Para peserta bedah buku “Sepatu Orang Lain” mengungkapkan kekagumannya pada Mia Saadah yang masih tetap berkarya dan berbagi inspirasi di tengah kehidupan keluarga diplomat yang berpindah-pindah. Salah seorang peserta, Bella Friska mengungkapkan bahwa buku berjumlah 200 halaman ini penuh dengan tulisan inspiratif, menggugah, dan kaya makna. “Bab paling favorit saya adalah Diary Ayah dan Meminta Maaf pada Anak,” ujar professional fashion designer ini.

“Tulisan Mia Saadah sangat natural. Orang yang tidak gemar membaca pun akan asyik membaca buku ini,” kata Dewi Basuki, perempuan Indonesia yang menjalani profesi sebagai motivator di Swiss. “Pengalaman hidup yang Mia tuliskan di buku ini, tidak hanza bermakna bagi penulisnya, tetapi juga menginspirasi banyak orang.”

“Ini adalah buku yang ringan dan jujur. Tulisannya sangat mudah kita refleksikan dengan keseharian kita,” tambah Ervita Sumardjono, seorang trainer dan konsultan asal Indonesia.

Ditemui pada kesempatan terpisah, Dubes RI untuk Swiss, Linggawaty Hakim mengucapkan selamat atas peluncuran buku Sepatu Orang Lain di Swiss ini. “Saya sudah baca bukunya. Tulisan Mia begitu philosophical dan maknanya sangat dalam, tetapi disajikan dengan bahasa yang mengalir. Tidak banyak orang yang bisa menulis seperti ini.”

Meskipun diterbitkan oleh penerbit KataDepan Jakarta dan beredar di jaringan toko buku besar di seluruh Indonesia, buku “Sepatu Orang Lain” ini juga banyak beredar di Eropa, seperti Swiss, Inggris, Belanda, Jerman, dan Perancis.

“Book launchingdi Bern ini kick-off. Insya Allah bulan Desember, kami akan memulai book tour ke London, Leiden, Berlin, dan Paris. Mohon doa dari semuanya,” pungkas Mia Saadah.

Redaktur : R Fauzi
Reporter : Dendi

Facebook Comments