KAPOLRES Pandeglang, AKBP Indra Lutrianto Amstono saat ekspose perkara kasus dugaan ujaran kebenciaan di depan Sat Reskrim Polres Pandeglang, Selasa (30/10/2018) pagi. (ARI SUPRIADI/TUNTAS MEDIA)

POLRES Pandeglang berhasil mengungkap kasus dugaan ujaran kebenciaan melalui Facebook. Akun Facebook Galuh Alrizky Setyawan, 24 Oktober lalu memposting status yang menimbulkan rasa benci atau permusuhan antar golongan atau SARA.
Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian diketahui jika pengunggah status ujaran kebencian bukan pemilik akun Facebook Galuh Alrizky Setyawan (Galuh Rizky Setiawan), tetapi AAH (25), warga Kepulauan Tidung, Kabupaten Adiministrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

“Kasus ini berawal ditemukannya status Facebook saudara Galuh yang berisi status dengan nada kebencian kepada seseorang atau kelompok. Kemudian kita lakukan penyelidikan dan akhirnya kita temukan, ternyata Facebook-nya Galuh ini dikendalikan oleh rekannya,” ujar Kapolres Pandeglang, AKBP Indra Lutrianto Amstono saat ekspose perkara di depan Sat Reskrim Polres Pandeglang, Selasa (30/10/2018) pagi.

Kemudian berdasarkan informasi itu, Sat Reskrim melakukan penangkapan terhadap rekan Galuh di Pulau Tidung di Kepulauan Seribu. Selanjutnya tersangka AAH (25) dibawa ke Mapolres Pandeglang untuk diproses lebih lanjut.

“Setelah kita interogasi yang bersangkutan mengakui bahwa berinisial AAH ini benar mengoperasikan akun Facebook milik Galuh. Motifnya karena dia (tersangka, red) sakit hati dengan Galuh, karena sering dibohongi dan juga persaingan usaha. Akhirnya dia membuat status yang seolah-olah status itu dibuat oleh saudara Galuh,” beber Indra.

Dalam kasus ini pihaknya menetapkan satu tersangka, yakni berinisial AAH. Tersangka disangkakan dengan pasal 45 ayat 2 Undang-Undang Nomor : 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman penjara paling lama enam tahun dan atau denda Rp 1 miliar. “Hingga saat ini kita belum temukan adanya motif penistaan agama,” tukas kapolres saat ditanya soal dugaan penistaan agama dalam kasus tersebut.

Sementara, tersangka AAH mengakui perbuatannya yang menulis status di akun Facebook milik rekannya. Ia beralasan sakit hati dan sengaja memposting status tersebut agar masyarakat membenci rekannya. “Saya posting status itu supaya Galuh dibenci masyarakat dan supaya terbalas sakit hati saya,” akunya.

Di tempat yang sama, Galuh mengaku, kecewa jika temannya tega memfitnahnya dengan memposting status yang meresahkan masyarakat. Bahkan dirinya kerap mendapatkan ancaman dari berbagai pihak lantaran disangka pelaku pembuat status tersebut.

“Saya berterimakasih kepada Polres Pandeglang yang telah berhasil mengungkap kasus ini dan ternyata pelakunya teman saya sendiri. Saya tidak menyangka,” kata Galuh.

Dirinya merasa terganggu dengan kejadian ini. Apalagi masyarakat masih mencarinya, karena dianggap sebagai penyebar ujaran kebencian melalui Facebook.
“Bukan hanya masyarakat Labuan atau Pandeglang, tetapi dari Cirebon hingga Medan mencari saya. Saya mau dipenggal dan katanya darahnya halal segala,” kata dia.

Galuh meminta nama baiknya kembali dibersihkan agar ia bisa tenang ke manapun pergi. Sebab, saat ini ia masih merasa khawatir jika akan berpergian. “Saya minta nama saya dibersihkan agar saya enak mau ke mana-mananya. Untuk ancaman masih ada, banyak ancaman mah,” pungkasnya.

Redaktur : D Sudrajat
Reporter : Ari