KEBON Seni Juhut Haji Ilen, Pandeglang, kembali menjadi pusat kegiatan budaya dengan diselenggarakannya Workshop Kekelok selama dua hari, 27-28 September 2024. Acara tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2024 yang didanai sepenuhnya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII.

Workshop Kekelok ini mengangkat seni komunikasi Kekelok, sebuah tradisi komunikasi lisan masyarakat Gunung Karang, serta metode penyembuhan tradisional Gurah yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banten. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, yang diwakili oleh Kepala Bidang Kebudayaan.

Dalam sambutannya, perwakilan dari BPK Wilayah VIII menyatakan bahwa acara ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mendukung pelestarian budaya tradisional, terutama yang mulai dilupakan generasi muda. “Pelestarian seni dan tradisi lokal adalah tanggung jawab bersama, dan melalui kegiatan ini, kami berharap seni komunikasi Kekelok dapat kembali dihidupkan dan dikenal oleh lebih banyak orang,” ujarnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang juga menekankan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai kekayaan daerah. “Budaya tradisional seperti Kekelok dan Gurah adalah bagian dari identitas Banten. Dengan mengangkatnya kembali melalui workshop ini, kami berharap masyarakat, terutama generasi muda, semakin tertarik untuk mempelajari dan melestarikannya,” katanya dalam sambutannya.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Lurah Juhut, M. Syahrul, yang menekankan pentingnya kegiatan ini untuk memperkuat kesadaran budaya di tingkat lokal. “Kegiatan ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda dalam memahami dan melestarikan warisan leluhur kita,” ucapnya.

Sebagai penerima manfaat, Moh. Aminuddin menyampaikan bahwa Workshop Kekelok ini merupakan upaya nyata untuk menjaga tradisi leluhur Banten agar tetap relevan. “Dengan adanya kegiatan ini, kami ingin agar seni Kekelok dan Gurah terus hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” jelasnya.

Pemateri yang terlibat dalam Workshop Kekelok adalah para ahli di bidang budaya dan tradisi lokal, yaitu Endang Suhendar sebagai pakar budaya, Dayat Hidayat sebagai pakar Gurah, serta Satra sebagai pakar Kekelok. Dede Abdul Majid berperan sebagai moderator, mengarahkan sesi diskusi dan praktik lapangan agar lebih mendalam dan interaktif.

Dengan adanya Workshop Kekelok ini, diharapkan tradisi komunikasi dan penyembuhan tradisional Banten dapat lebih dikenal dan dilestarikan, serta menjadi bagian penting dalam promosi kebudayaan lokal ke tingkat nasional dan internasional.(*)