Kecamatan Mandalawangi Paling Parah Terdampak Gempa Bumi Pandeglang

0
235

KECAMATAN Mandalawangi paling parah terdampak gempa bumi yang terjadi Jumat (02/08/2019) sekitar pukul 19.04 WIB lalu. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 59 bangunan rusak yang terdiri dari 57 rumah, satu sekolah, dan satu tempat ibadah.

Camat Mandalawangi, Entus Bakti mengatakan, terdapat 57 rumah, satu masjid, dan satu sekolah yang mengalami kerusakan akibat diguncang gempa bumi berkekuatan 6,9 SR. Kerusakan tersebut mulai dari rusak berat, sedang hingga rusak ringan.

“Berdasarkan data sementar yang kami dapat, setidaknya ada 59 rumah di delapan desa yang ada di Kecamatan Mandalawangi,” ujar Entus Bakti saat ditemui di Desa Panjangjaya, Kecamatan Mandalawangi, Sabtu (03/08/2019).

Berdasarkan data sementara yang berhasil dihimpun, kata dia, terdapat delapan desa di Kecamatan Mandalawangi yang terdampak gempa bumi, yakni Desa Sinarjaya, Panjangjaya, Cikumbuen, Pari, Ramea, Curuglemo, dan Desa Kurung Kambing.

“Yang terparah kerusakan terjadi di Desa Sinarjaya dan Panjangjaya. Alhamdulillah untuk korban jiwa belum ada laporan, baik yang luka maupun meninggal dunia,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Munardo menerangkan, laporan jumlah kerusakan bangunan tiap pasca gempa bumi terus mengalami penambahan. Hingga hari ini terdata sekitar 200 bangunan dilaporkan mengalami kerusakan.

“Bapak Presiden (Joko Widodo, red) sudah menginstruksikan BNPB untuk menatau dampak gempa bumi. Hingga hari ini (pukul 09.00 WIB, red) jumlah bangunan yang terdata sekitar 200 bangunan, baik yang rusak berat, rusak sedang maupun rusak ringan, dan dua orang dilaporkan meninggal dunia,” ujar Doni Munardo saat mengunjungi Kecamatan Mandalwangi didampingi Bupati Pandeglang, Irna Narulita, Camat Mandalawangi, Entus Bakti dan jajaran.

Ia menjelaskan, potensi-potensi gempa bumi di bagian selatan Banten bukan hoaks. Karena para peneliti, pakar dan periset pernah menyampaikan potensi tersebut dua pekan lalu dan sempat ada kekhawatirkan.

“Inilah yang kita hadapi sekarang, bahwa gempa bisa terjadi kapan sajam. Hanya tidak pernah ada atau belum pernah ada satupun teknologi yang bisa mengetahui kapan waktu yang pasti (gempa terjadi, red),” ujar mantang Pangdam XVI Pattimura 2015-2017 ini.

Maka potensi ini perlu terus diamati dan melakukan berbagai langkah agar masyarakat di sekitar selatan Pulau Jawa, baik itu Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat serta Banten untuk selalu siap.

“Tadi pagi saya tanya ke masyarakat dan dari seluruh yang saya tanya satupun belum pernah mengikuti simulasi. Oleh karenanya ke depan BNPB perlu menyusun sebuah konsep tentang simulasi yang harus melibatkan keluarga, jadi tidak cukup latihan di tingkat aparat,” tutup Doni.

Redaktur : A Supriadi
Reporter : Andre Sopian

Facebook Comments