SERANG, TUNTASMEDIA.COM – Deru bising kendaraan yang memadati Jalan Jenderal Sudirman, Ciceri, Kota Serang, perlahan senyap begitu pintu kaca di lantai tiga Gedung Bawaslu Provinsi Banten tertutup rapat. Di dalam ruangan itu, pendingin udara berembus konsisten, memeluk ruangan dengan hawa dingin yang kontras dengan terik khas Kota Serang di luar sana. Di kursi kebesarannya, duduk sang nakhoda pengawas pemilu Banten, Ali Faisal.
Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus, lalu tersenyum tipis ketika ingatan masa lalunya kembali diputar. Bagi Ali, ruangan nyaman ber-AC ini, jabatan mentereng sebagai Ketua Bawaslu, hingga persiapan sidang terbuka doktornya, adalah rentetan takdir yang hampir mustahil jika ditarik garis lurus ke masa kecilnya di awal tahun sembilan puluhan.
“Saya ini aslinya bukan siapa-siapa. Kalau melihat saya duduk di kursi ini sekarang, ini adalah keajaiban dari sebuah ketekunan,” ujar Ali, suaranya bergetar pelan, sarat akan kerendahan hati.
Pikiran Ali melayang jauh ke utara Kabupaten Serang, tepatnya ke Desa Mangkunegara di pesisir Bojonegara. Di sana, ia tumbuh dalam dekapan kasih sayang tulus sang ayah, H. A. Marzuki, dan sang ibu, Jaenab—dua sosok bersahaja yang kini telah berpulang ke haribaan Ilahi. Bojonegara kala itu adalah riuh, bau garam, dan bentang alam yang keras. Bukit-bukit batu yang berdiri megah menantang langit perlahan mulai dikikis, dipahat oleh zaman untuk memberi ruang bagi pabrik-pabrik raksasa yang berdiri tegak memuntahkan asap industri.
“Saya ini hanya anak kampung dari Mangkunegara yang tumbuh di antara debu jalanan, kepulan asap pabrik, dan runtuhan batu bukit yang digerus alat berat. Sejak kecil, saya melihat lingkungan berubah menjadi rimba industri. Di tengah kepungan itu, saya sadar, satu-satunya modal yang saya punya untuk mengubah nasib hanyalah keinginan untuk sekolah setinggi-tingginya. Saya tidak mau jadi penonton yang terasing di tanah kelahiran sendiri,” kenangnya dengan tatapan mata yang menerawang menerobos dinding ruang kerjanya.
Keinginan keras itulah yang menuntun langkah kakinya membelah jalur pendidikan dengan tekun. Masa kecilnya ia habiskan dengan membagi waktu secara ketat antara jalur formal dan agama; pagi bertelanjang kaki ke SDN Sempu, sorenya mengaji di MI Al-Jauhartunnaqiyah Mamengger sepanjang tahun 1986 hingga 1992. Langkahnya berlanjut ke SMPN Bojonegara (1992–1995) dan menyeberang ke SMUN Kramatwatu Serang (1995–1998).
Geliat aktivisme dan kecintaan pada hukum kemudian membawanya merantau ke Kota Kembang, menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Pasundan Bandung (1998–2002). Di ruang-ruang diskusi mahasiswa yang riuh itulah, idealisme Ali Faisal mekar. Namun, jalan hidup setelah lulus tak pernah linier. Ia sempat mencicipi dinginnya lantai birokrasi, mula-mula menjadi staf pada Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten (2005–2009), hingga berseragam PNS di Pemkab Serang (2010–2013). Di sela-sela itu, ia membagikan ilmunya sebagai dosen di Universitas Bina Bangsa (2009–2015).
“Semua saya jalani. Jadi staf biasa, naik motor menembus debu, hingga mengajar mahasiswa. Hidup saya penuh kelokan. Tapi di setiap tikungan, saya selalu berbisik pada diri sendiri: Jangan berhenti belajar, Ali. Buku-buku itu yang akan menyelamatkanmu, ” tuturnya sembari membenarkan posisi duduknya.
Panggilan jiwa akhirnya membawa Ali masuk ke arena kepemiluan. Integritasnya diuji saat terpilih sebagai Komisioner KPU Kota Serang (2013–2017), sebelum akhirnya beralih ke lini pengawasan sebagai Komisioner Bawaslu Provinsi Banten (2017–2022). Keteguhan sikapnya membuat ia dipercaya memegang nakhoda tertinggi sebagai Ketua Bawaslu Provinsi Banten untuk periode 2022–2027.
Menjaga demokrasi di Banten—daerah dengan dinamika politik yang kerap “hangat” dan penuh tekanan—membuat waktu Ali terkuras habis. Namun, bagi Ali Faisal, praktik tanpa teori adalah kebutaan. Di tengah malam yang sunyi, saat seluruh kota tertidur, ia kerap terjaga menembus batas lelah untuk memburu ilmu.
Gelar Magister Ilmu Hukum diraihnya dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2007–2010), disusul Magister Ekonomi Syari’ah dari IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten (2014–2016). Sempat menimba ilmu di PDIH Universitas Lampung (2019–2024), Ali akhirnya melabuhkan jangkar akademiknya di Program Doktor Hukum Keluarga Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten (2023–2026).
“Kadang kalau diingat, saya sendiri heran bagaimana bisa membagi kepala. Di siang hari saya harus memimpin sidang pelanggaran pemilu atau berdebat soal regulasi, malamnya saya harus merevisi draf disertasi hukum Islam. Lelah? Luar biasa lelah. Tapi setiap kali mata saya berat, saya ingat wajah almarhum bapak dan ibu. Saya ingat anak-istri saya,” kata Ali, matanya tampak berkaca-kaca.
Di belakang ketangguhan Ali, ada sosok istri tercinta, N. Lina Suharlina, M.Pd, yang senantiasa menjadi teduh di kala badai pekerjaan menerpa. Doa-doa tulus juga mengalir dari warisan nilai mertuanya, mendiang Sudarna Udjang dan Iah Suarti.
Nama besar tanah kelahiran dan cita-cita luhur Ali kini ia titipkan pada nama keempat putra mereka: M. Alif Bajanegara yang kini menempuh studi di STIA LAN Bandung inbound FISIP Universitas Brawijaya Malang, M. R. Aryudha Mangkunegara yang sedang digembleng di kawah candradimuka KMI PMDG Gontor, serta dua putranya yang masih kecil, M. Anegarah Sastranegara dan M. Akbar Pandunegara.
Kini, penantian panjang dan peluh yang bercucuran di sepanjang jalan berliku itu menemui hilirnya. Tanggal 11 Juli mendatang akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupnya. Ruang Aula lantai 3 Gedung Rektorat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten akan menjadi saksi Sidang Terbuka Promosi Doktor Hukum bagi Ali Faisal.
Di hadapan para dewan penguji, guru besar, dan kolega, anak Desa Mangkunegara ini akan mempertanggungjawabkan seluruh buah pikirannya secara ilmiah. Gelar “Doktor” yang sebentar lagi tersemat di depan namanya bukan sekadar simbol status akademik, melainkan sebuah monumen pembuktian hidup.
“Bagi saya, sidang tanggal 11 Juli nanti bukan soal pamer gelar. Ini adalah pembuktian kepada anak-anak muda di kampung saya, di Mangkunegara, di Bojonegara, dan di seluruh pelosok Banten. Saya ingin mereka tahu, dari mana pun kita berasal, sekampung apa pun tempat lahir kita, takdir yang agung bisa kita jemput jika kita mau belajar dan bekerja keras,” ucap Ali menutup obrolan, sebuah kalimat penegas yang bergaung kuat di dalam ruangan ber-AC lantai tiga Ciceri itu.
Saat palu sidang diketuk pada 11 Juli nanti, dari balik jubah akademiknya, Ali Faisal akan mempersembahkan sebuah senyum terbaik ke arah utara—ke arah bukit-bukit batu dan debu Bojonegara yang telah melahirkannya sebagai seorang petarung kehidupan.(***)
Redaktur: Rizal Fauzi























