Pelemahan Demokrasi dan Rekonstruksi Parpol

0
32

Oleh. Dr. Muhadam Labolo, M.Si
Analis Pada Pusat Kajian Strategis Pemerintahan Jakarta.

TIGA catatan kritis atas kesehatan demokrasi kita setidaknya merujuk pada, pertama, laporan freedom house (2020). Kualitas demokrasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir dinilai mengalami transformasi dari negara bebas (free country) menjadi negara bebas sebagian (partly free country).

Kedua, menurut The Economits Intellegent Unit (EIU, 2020) demokrasi Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 6,48. Secara global demokrasi kita dianggap belum sempurna (flawed democracy). Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia bahkan berada di bawah Malaysia dan Philipina, termasuk negara bekas asuhannya, Timor Leste.

Raport ketiga atas keafiatan demokrasi kita mungkin sedikit menaikkan imun. Laporan The Global State of Democracy (2019) menunjukkan kualitas demokrasi Indonesia berada di rentang menengah (mid-range) dan tinggi pada aspek partisipatory engagement.

Indikasi terakhir setidaknya dapat dikonfirmasi lewat Pemilu 2019 dan Pilkada 2020. Angka partisipasi pemilu mencapai 81 persen, dan pemilukada yang mencapai 76 persen (KPU, 2021). Persentase itu setidaknya melampaui target RPJMN 2015-2019 sebesar 77,5 persen. Tak kurang Amerika mengapresiasi capaian tersebut lewat Menteri Dalam Negeri.

Pekerjaan utama kita hari ini adalah bagaimana meningkatkan stamina demokrasi agar mampu mencapai konsolidasi sesuai rencana strategis nasional. Meminjam gagasan Dahl (1989) tentang apa yang disebutnya polyarchy (demokrasi), satu dari tujuh variabel yang digunakan sebagai pisau analisis menunjukkan bahwa hak menyalonkan diri (the right to run for office) dikontribusikan oleh dua dimensi utama, yaitu regulasi elektoral dan partai politik.

Seraya menyempurnakan regulasi elektoral, kita menekankan pada sejauhmana peran partai politik terhadap upaya konsolidasi demokrasi di Indonesia, mengingat tingkat kepercayaan publik terhadap parpol berada di titik nadir sebesar 6 persen (LSI, 2019). Ini perlu usaha ekstra, strategi yang kompleks, serta kesabaran yang panjang di tengah friksi internal yang sedemikian tak sehat.

Sejauh ini persepsi publik terhadap parpol sulit ditolong oleh berbagai perilaku amoral anggotanya, termasuk intrik kekuasaan yang sarat khianat serta minus kenegarawanan. Di luar itu problem strategis berkaitan dengan candidacy buying dan vote buying. Kedua faktor tersebut terasa lekat dalam ingatan di setiap moment pilkada.

Artinya, korupsi politik dan money politics adalah dua penyakit akut bagi integritas elektoral di setiap strategi pemenangan (electoral winning strategy). Semua itu dapat dibuktikan dengan tertangkapnya lebih kurang 300 kepala daerah oleh KPK, terakhir kali Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah.

Konfirmasi di atas memperlihatkan pada kita bahwa parpol sebagai salah satu elemen demokrasi mengidap semacam penyakit kanker stadium akhir. Sementara kita berharap parpol diposisikan sebagai salah satu aktor kunci dalam mewujudkan konsolidasi demokrasi, di lain pihak parpol nyata-nyata terbelit oleh tekanan oligarkhi, disorientasi ideologi, lemahnya kaderisasi, serta gelapnya sumber daya materil.

Tanpa membangun kepedulian kita pada parpol, ia bukan saja melenyapkan ekspektasi menuju konsolidasi demokrasi, juga menihilkan masa depan kepemimpinan bangsa yang teramat mahal. Membubarkan parpol tentu bukan jalan keluar yang efektif.

Tanpa parpol kita mungkin kembali ke era sistem politik traditional. Siapa sekuat Ken Arok tentu dapat menyingkirkan Tunggul Ametung demi kekuasaan di Singosari. Ini realitas dan kecendrungan yang kita saksikan hari-hari kini. Menyederhanakan parpol tentu ide yang bijak agar sistem presidensial dalam konstitusi semakin presisi.

Problem parpol mesti diselesaikan dengan mendorong demokratisasi berjalan ditubuhnya sendiri. Di luar, fasih bicara demokrasi, di dalam ketat hirarkhi, feodal, sentralistik dan transaksional. Pola rekrutmen parpol perlu dibenahi agar tak terjadi kelangkaan sumber daya yang menyebabkan artis, birokrat sipil/militer serta pengusaha jauh lebih marketable dibanding kadernya sendiri. Keuangan parpol yang minim mesti dicarikan solusi, agar kasus yang memperlihatkan aliran dana tak jelas dapat dihentikan. Sisanya menyempurnakan regulasi yang berpotensi bagi orang sebaik apapun mudah menjadi bulan-bulanan penegak hukum.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here