TUNTASMEDIA.COM, PANDEGLANG – Malam turun perlahan di Bale Budaya Pandeglang. Lampu-lampu temaram menggantung seperti napas yang tertahan, sementara udara membawa aroma kayu panggung, keringat, dan harapan yang tak pernah padam. Sabtu (27/12) malam itu, bukan sekadar pertunjukan yang berlangsung—melainkan sebuah pernyataan.

Di atas panggung sederhana, Teater Bale dan Artgoong menghidupkan Malam Jahanam, naskah klasik karya Motinggo Boesje yang telah lama menghantui jagat teater Indonesia. Inisiatif pementasan ini lahir dari kolaborasi Teater Bale, Artgoong, dan Studio Tata Artistik, dengan fasilitasi Pandeglang Creative Hub—sebuah ruang kreatif yang masih belajar menemukan bentuknya sendiri.

Namun, panggung itu lebih dari sekadar tempat bermain peran. Ia menjadi cermin bagi wajah seni pertunjukan Pandeglang: penuh daya, namun kerap terhimpit keterbatasan.

Saat tirai terbuka, konflik batin dan ketegangan sosial dalam Malam Jahanam berdenyut di setiap dialog. Para aktor bergerak di ruang yang sempit, namun batin mereka meluas—seolah menembus tembok-tembok yang membatasi kreativitas mereka di dunia nyata. Set artistik sederhana tak mengurangi intensitas; justru menegaskan bahwa teater bisa lahir dari keterbatasan, meski tak seharusnya dipenjara olehnya.

Di tepi panggung, sutradara Ifan Sandekala—yang akrab disapa Ipong—menatap pertunjukan dengan campuran bangga dan resah. Baginya, malam itu bukan sekadar pentas, tetapi refleksi pahit-manis ekosistem seni di daerah.

“Tujuannya menjaga keberlangsungan aktivitas teater di tengah minimnya ruang pertunjukan yang representatif,” ucapnya pelan, seolah kata-katanya mengalir bersama cahaya lampu panggung.

Baginya, Malam Jahanam bukan hanya cerita tentang manusia yang terjebak dalam gelap, melainkan juga metafora bagi seniman yang berjuang di tengah minimnya ruang, fasilitas, dan pengakuan. Ketegangan sosial dalam naskah itu beresonansi dengan kehidupan nyata para pelaku teater Pandeglang.

Di kursi penonton, Budayawan Pandeglang Tirta Nugraha Pratama menyaksikan dengan seksama. Ia tersenyum tipis ketika tepuk tangan menggema—bukan sekadar tanda apresiasi, tetapi juga jeritan tak terucap atas kondisi seni yang rapuh.

Pertunjukan itu komunikatif, hidup, dan menggugah. Namun di balik itu, Tirta melihat paradoks: bakat melimpah, tetapi ruang yang layak nyaris tiada.

“Teater membutuhkan ruang yang aman, layak, dan berkelanjutan agar bisa berkembang secara optimal,” katanya setelah tirai menutup.

Ia mengakui kehadiran Pandeglang Creative Hub sebagai langkah awal yang patut dihargai—sebuah pintu kecil yang mulai terbuka. Namun, satu pintu tak cukup untuk menopang bangunan besar bernama kebudayaan.

Baginya, pementasan Malam Jahanam bukan sekadar peristiwa artistik. Ia adalah pesan lantang yang dibungkus keindahan: bahwa seni membutuhkan keberpihakan, bukan sekadar simpati.

Malam semakin larut. Lampu panggung padam. Para aktor turun dengan wajah letih namun berkilau. Di udara masih tersisa getar dialog, jerit batin, dan harapan yang belum padam.

Di sudut Bale Budaya, harapan itu bergema lirih: semoga suatu hari, kreativitas di Pandeglang tak lagi berjuang melawan keterbatasan—melainkan tumbuh bersama ruang yang layak, kebijakan yang berpihak, dan masa depan kebudayaan yang lebih terang.(***)

Redaktur: Rizal Fauzi