LEBAK, TUNTASMEDIA.COM — Film dokumenter Sidiq: Jejak Terakhir Maestro Zikir Saman Banten akan diputar di Museum Multatuli, Lebak, Banten, Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 19.30 WIB. Pemutaran film ini menjadi rangkaian penutup program riset dan pendokumentasian yang dilakukan Lebak Auto Fokus (LAFO) melalui program Dana Indonesiana, kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah.

Film tersebut merekam perjalanan Sidiq, seorang maestro Zikir Saman yang masih bertahan di Kampung Suka Sari, Desa Kumpay, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak. Di tengah semakin menyusutnya ruang hidup kesenian tradisional, Sidiq menjadi salah satu penjaga terakhir tradisi Zikir Saman di wilayah tersebut.

Zikir Saman bukan sekadar bentuk kesenian tradisional masyarakat Banten. Tradisi ini menyimpan jejak sejarah dan identitas kebudayaan yang berkaitan dengan masyarakat Kesultanan Banten pada masa lalu. Setelah Kesultanan Banten mengalami keruntuhan, berbagai kesenian dan pengetahuan yang sebelumnya berkembang di lingkungan istana menyebar ke sejumlah wilayah Banten dan bertransformasi mengikuti kehidupan masyarakat pendukungnya.

Salah satu tradisi yang kemudian bertahan adalah Zikir Saman. Di Kabupaten Lebak, tradisi tersebut masih hidup, meskipun keberadaannya kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Kelompok-kelompok yang mampu mempertahankan pengetahuan, repertoar, tata cara, serta transmisi kesenian tersebut semakin terbatas.

Dalam situasi itulah sosok Sidiq menjadi penting. Ia bukan hanya pelaku pertunjukan, tetapi juga menjadi simpul pengetahuan dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan ketika ruang regenerasinya semakin menyempit.

Film dokumenter ini berusaha menangkap kehidupan Sidiq sekaligus merekam pengetahuan yang melekat pada praktik Zikir Saman. Pendokumentasian tidak semata diarahkan untuk menghasilkan arsip audiovisual, tetapi juga menjadi upaya untuk menjaga jejak pengetahuan maestro agar tidak hilang bersama berkurangnya pelaku dan pewaris tradisi.

Hentje Saputra, Manajer Program Pendokumentasian Film Sidiq, mengatakan program tersebut memberikan dampak langsung terhadap upaya pelestarian maestro dan pengetahuan tradisional yang dimilikinya.

“Saya sangat mengapresiasi dan mendukung keberlanjutan program ini karena dampaknya signifikan dan langsung terasa oleh maestronya,” ujar Hentje.

Menurutnya, pendokumentasian menjadi penting karena keberadaan maestro tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan pengetahuan kebudayaan. Ketika seorang maestro berhenti berkarya tanpa adanya proses pewarisan dan dokumentasi yang memadai, sebagian pengetahuan yang hidup bersamanya berpotensi ikut hilang.

Karena itu, film Sidiq ditempatkan bukan hanya sebagai karya audiovisual, melainkan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk membaca kembali posisi maestro dalam ekosistem kebudayaan Banten. Film ini juga menjadi catatan mengenai kondisi sebuah tradisi yang berada di ambang kepunahan, sekaligus tentang manusia yang masih memilih untuk mempertahankannya.

Program yang didukung Dana Indonesiana tersebut diharapkan tidak berhenti pada produksi film dan pemutaran perdana. Dokumentasi menjadi titik awal untuk memperluas pengenalan Zikir Saman, membuka ruang penelitian lanjutan, memperkuat arsip kebudayaan, serta mendorong proses regenerasi di kalangan generasi muda.

Pemutaran Sidiq: Jejak Terakhir Maestro Zikir Saman Banten di Museum Multatuli menjadi penanda berakhirnya rangkaian riset LAFO sekaligus membuka pertanyaan yang lebih panjang: bagaimana sebuah masyarakat menjaga warisan kebudayaannya ketika para pewarisnya semakin sedikit?

Di tengah arus perubahan zaman, keberadaan Sidiq memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu bertahan karena memiliki banyak pendukung. Kadang, sebuah pengetahuan kebudayaan bertahan karena masih ada satu orang yang memilih untuk terus menjaganya.(*)

Redaktur: Rizal Fauzi

Reporter: Zied.