Uday Suhada saat berbincang dengan rekannya di kawasan Carita (foto: VOA/Ahmad Bhagaskoro)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban tewas akibat tsunami Selat Sunda hingga Rabu (26/12/2018) mencapai 430 orang. Tsunami juga mengakibatkan ribuan orang luka-luka dan lebih dari 17.000 orang mengungsi.

Korban meninggal dan pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Pandeglang, Banten, yakni 290 korban jiwa dan 17.000-an pengungsi. Seratusan pengungsi di antaranya berada di RW 04 Desa Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Mereka tinggal di rumah-rumah warga sekitar. Salah satunya yang memberikan tempat kepada para pengungsi yaitu Uday Suhada. Ia menuturkan ia hanya berusaha sebisa mungkin untuk membantu para korban tsunami tersebut.

“Di rumah saya dari hari Minggu, sudah tinggal di sana. Sementara kita tampung ada 23 jiwa, kebetulan ada saung yang cukup luas yang bisa menampung mereka. Sebagian lagi di rumah-rumah penduduk yang rumahnya cukup luas. Ada sekitar 125 orang di kampung saya Menes,” tutur Uday kepada VOA, Senin (24/12/2018) malam di Pandeglang.

Uday mengatakan, ia tergerak membantu para korban setelah mendapat informasi dari temannya, seorang nelayan, yang melihat ombak cukup tinggi. Dua temannya yang bekerja sebagai nelayan juga menjadi korban dengan kondisi yang memprihatinkan.

Kendati demikian, ia juga tidak menyangka pada Sabtu (22/12/2018) malam itu akan terjadi tsunami,karena warga masih menganggap letusan Anak Gunung Krakatau dalam beberapa bulan terakhir bukan sebagai hal yang membahayakan.

“Jadi, beberapa jam sebelum tsunami datang, saya setengah hari mancing di perairan Caringan, Kecamatan Labuhan, Pandeglang. Pada saatmancing, laut teduh, saya lihat arah tengah, anak gunung Krakatau nampak jelas dan asap tebal,” sambung aktivis antikorupsi ini.

Uday mengaku, tak banyak yang dapat dilakukan pada malam hari saat kejadian tsunami karena situasi yang kacau. Baru kemudian, pada pagi harinya ia mencoba berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk dapat membantu para korban. Salah satunya yaitu dengan menyediakan tempat pengungsian, mengumpulkan pakaian dan makanan untuk para korban.

Tetangga Uday, Kohar menjelaskan usia seratusan pengungsi di sana cukup beragam, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Menurutnya, belum ada bantuan dari pemerintah setempat untuk para pengungsi, sehingga kebutuhan pengungsi selama ini hanya dipenuhi dari para warga.

“Saya tidak berani melaporkan ke pemerintah, karena takut disangka saya ikut memanfaatkan. Dan kami sadar betul, karena tidak terdeteksi oleh pemerintah. Tapi kemarin saya sudah hubungi kepolisian, baru kemarin berkunjung ke sini,” jelas Kohar kepada VOA, Rabu (26/12/2018).

Kohar menambahkan, belum ada tindak lanjut dari kepolisian setempat terkait bantuan untuk para pengungsi. Ia berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan untuk mereka, terutama bantuan makanan dan obat-obatan, termasuk petugas medis.

Sementara itu salah satu pengungsi, Yusiana Marliani mengatakan, keberadaan tempat pengungsian ini penting untuk memberikan rasa aman kepada dirinya. Meski rumahnya tidak terdampak tsunami, ia menuturkan ia masih merasa takut tinggal di rumahnya yang berdekatan dengan laut.

“Cuma ini saja takut, karena rumah di pinggir laut. Di Labuan di Kampung Karang Sari, Desa Cigondang dekat PLTU,” tuturnya.

Yusiana yang mengungsi dengan suami dan kedua anaknya serta orangtuanya belum dapat memperkirakan akan tinggal berapa lama lagi di tempat pengungsian RW 04.

Redaktu : A Supriadi
Sumber : VOA Indonesia

Facebook Comments