SEMUA orang pasti punya cita-cita ketika masih kanak-kanak atau remaja. Namun seiring waktu tak semua harapan dan keinginan tersebut berjalan seperti yang telah direncanakan.
Terkadang terdapat beberapa hal di luar kendali manusia yang mengharuskan kita untuk merelakan impian tersebut. Hal ini tentu tidak mudah untuk diterima mengingat impian tersebut sudah sedari kecil kita dambakan. Namun itulah kehidupan.
Hal ini pun dialami Pemuda kelahiran Pandeglang, 14 November 2003, Salman Abdul Wahid.
Pernah bercita-cita menjadi seorang pengacara, akhirnya kini Salman menekuni dunia kerja yang berbeda yakni menjadi seorang perawat.
“Kalau cita-cita sih sebetulnya ingin jadi pengacara beneran, tapi waktu lulus SMA dulu gagal lolos ambil Fakultas Hukum saat SNMPTN tahun 2021. Ehhh malah diterima di kesehatan,” ungkap Salman Abdul Wahid yang ditemui di kediamannya Kampung Kolelet Turus, Pasirtangkil – Warunggunung belum lama ini.
Atas kegagalan lolos SNMPTN Alumni SMAN 1 Warunggunung tersebut ia mengaku harus rela menerima saran orang tua untuk menempuh pendidikan lanjutan di salah satu politeknik kesehatan di Provinsi Banten.
Kini, Salman, Putra ketiga dari pasangan orang tua Ade Setiawan dan Enah Nurjanah ini telah lulus dari pendidikannya dan sedang meniti karir sebagai seorang perawat pemula.
Dan sekarang setelah punya gelar profesi sebagai Ahli Madya Keperawatan (A.Md.Kep) pemuda lajang yang hobi futsal dan permainan games ini menuturkan sedang mencoba peruntungan melamar bekerja di salah satu Rumas Sakit Swasta terbaik di Kabupaten Pandeglang, dan saat ini tengah menjalani masa percobaan sebagai tenaga perawat di Rumah Sakit Permata Ibunda.
“Sejak awal tahun ini sudah kerja sebagai perawat di rumah sakit swasta di Pandeglang,” ujar lulusan Diploma III Politeknik Kesehatan Banten Jurusan Keperawatan tahun 2024 ini.
Walau sempat merasa sedih dan kecewa ketika cita-cita awalnya kandas, namun ia mengaku selama kuliah di Poltekkes termotivasi dengan tantangan baru, walaupun ia mengakui dunia kesehatan bukan sesuatu yang baru mengingat kedua orang tuanya adalah tenaga kesehatan.
“Karena ternyata kuliah keperawatan tidak segampang itu cuma belajar mengobati orang sakit, melainkan dididik harus punya kesadaran nantinya akan bekerja tanpa batas waktu memberikan pelayanan di manapun bekerja. Karena merawat orang sakit otomatis harus siap meluangkan waktu setiap saat ketika dibutuhkan,” imbuh Salman yang mengaku akhirnya lulus kuliah dengan IPK yang terbilang lumayan 3,31.
Salman pun optimistis dengan keterampilan yang dimilikinya selama kuliah dan magang kerja di beberapa rumah sakit sebelumnya bisa bekerja secara profesional.
“Saya senang belajar hal baru dan saya memiliki motivasi untuk bekerja keras, menyukai interaksi serta bersosialisasi, kemampuan untuk belajar memperbaiki diri, bertanggung jawab dan mampu bekerja dengan tim maupun individu,” pungkasnya.






















