LEBAK, TUNTASMEDIA.COM – Upaya memperkuat identitas budaya Banten terus dilakukan melalui peluncuran buku Sulah Nyanda sebagai Arsitektur Vernakular Banten. Buku ini menjadi kontribusi penting bagi pelestarian pengetahuan arsitektur tradisional masyarakat Baduy sekaligus memperkaya literatur mengenai warisan budaya Banten.

Ditulis oleh peneliti muda Risa Rahmawati, buku ini lahir dari proses penelitian yang mendapat dukungan Dana Indonesiana, sebuah program pendanaan untuk pemajuan kebudayaan Indonesia. Melalui buku ini, Sulah Nyanda tidak hanya dipahami sebagai bentuk rumah adat, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai kearifan lokal, filosofi hidup, dan hubungan harmonis masyarakat Baduy dengan alam.

Peluncuran buku akan diselenggarakan pada Jumat, 31 Juli 2026, pukul 15.00 WIB, di Amphiteater Guriang Indonesia, Kampung Alun-alun RT 06/RW 02, Desa/Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten.

Acara ini akan menghadirkan diskusi publik dengan menghadirkan Dadan Sudjana sebagai pembedah dari perspektif sejarah, Nonci dari perspektif arsitektur, serta Nedi Suryadi sebagai pemantik diskusi. Dialog ini diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya Sulah Nyanda sebagai warisan arsitektur vernakular yang memiliki nilai budaya, ekologis, dan historis.

Direktur Program Guriang Indonesia, Risa Rahmawati mengatakan, peluncuran buku ini terbuka untuk masyarakat, akademisi, pegiat budaya, arsitek, mahasiswa, serta seluruh pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian kebudayaan.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bertemunya gagasan, penelitian, dan gerakan bersama untuk menjaga serta mengembangkan identitas budaya Banten melalui warisan arsitektur tradisionalnya,” tuturnya.

Masih kata Risa, peluncuran buku Sulah Nyanda sebagai Arsitektur Vernakular merupakan sumbangsih dalam memperkuat identitas budaya Banten. Buku ini, sambungnya,  mendokumentasikan arsitektur tradisional Baduy sebagai wujud kearifan lokal yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan keberlanjutan.

“Kehadirannya diharapkan menjadi rujukan bagi upaya pelestarian sekaligus memperteguh Sulah Nyanda sebagai salah satu identitas budaya Banten,” ia menegaskan.

Redaktur: Rizal

Reporter: Zied