SERANG, TUNTASMEDIA.COM — Di balik keriuhan Kota Serang yang terus berderap menuju industrialisasi, sebuah kabar menyejukkan lahir dari kampus Universitas Serang Raya (UNSERA). Delly Maulana, pria yang menghabiskan bertahun-tahun masa mudanya mendalami seluk-beluk birokrasi dan ruang publik, akhirnya menapaki puncak tertinggi piramida akademik.

Ia resmi menyandang Guru Besar, sebuah peristiwa yang mencatat namanya sebagai “sang pionir”—profesor pertama yang tumbuh dan mekar di lingkungan UNSERA.

Perjalanan Delly bukanlah rute yang singkat. Ia adalah produk tulen Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang. Dari jenjang S1 hingga meraih doktoral (S3), ia setia menekuni Administrasi Publik. Di sana, di antara diskusi-diskusi panjang tentang efisiensi negara dan pelayanan rakyat, Delly mengasah ketajamannya. Namun, di UNSERA, ia menemukan kanal yang lebih spesifik bagi intelektualitasnya: Kebijakan Lingkungan.

Kebijakan dan Ekologi

Kepakaran Delly dalam kebijakan lingkungan hadir di saat yang krusial. Di tengah isu perubahan iklim dan degradasi ekologi yang kian nyata, Delly memandang bahwa administrasi publik tak boleh hanya bicara soal prosedur di atas kertas, tapi juga soal bagaimana negara menjaga bumi yang dipijaknya.

“Posisi ini bukan hanya sebuah pencapaian pribadi, tetapi juga merupakan langkah penting dalam perjalanan akademik universitas yang kita cintai,” ujar Delly dengan nada tenang, namun terselip kebanggaan yang terukur. Bagi Delly, gelar ini adalah instrumen baru untuk menyuarakan riset-riset yang lebih membumi.

Ia sadar, menjadi profesor pertama di sebuah institusi adalah beban sejarah. Namun, ia memilih memandangnya sebagai peluang untuk menanam tradisi baru. “Saya berkomitmen untuk terus mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta membimbing generasi penerus untuk mencintai ilmu pengetahuan dan menerapkan nilai-nilai etika dalam setiap aspek kehidupan,” tambahnya.

Penanam Benih

Sosok Delly Maulana digambarkan sebagai penanam benih. Ia ingin Unsera bukan sekadar tempat mencetak ijazah, melainkan laboratorium inovasi yang inklusif. Ia menekankan bahwa ke depan, tradisi akademik yang unggul harus diperkuat melalui kolaborasi, bukan kompetisi yang saling menjatuhkan.

“Saya berharap, dengan status ini, saya dapat terus memberikan kontribusi yang signifikan dalam menciptakan suasana akademik yang inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” tutur pakar kebijakan lingkungan ini.

Visi Delly melampaui pagar kampus. Ia memimpikan riset-risetnya kelak menjadi solusi bagi tantangan dunia nyata—mungkin soal polusi, tata ruang, atau harmoni antara pembangunan dan kelestarian alam. Baginya, administrasi publik yang baik adalah kebijakan yang mampu memanusiakan lingkungan.

Pagi itu, di bawah langit Serang, apa yang diraih Delly Maulana bukan sekadar seremoni serahan samir dan ijazah. Ini adalah janji seorang akademisi yang lahir dari rahim kepublikan untuk terus mengabdi pada bangsa. Dengan semangat yang dibawa dari almamaternya di Semarang hingga ke jantung Banten, Sang Profesor siap menjaga “ekosistem” ilmu pengetahuan agar tetap rimbun dan memberi manfaat bagi pembangunan bangsa. Selamat Prof!(*)