Oleh:Tatu Munawaroh*

BELAJAR adalah tentang bagaimana menciptakan pengalaman bermakna bagi peserta didik untuk dapat menimba ilmu. Menciptakan pengalaman bermakna meliputi tiga hal, yaitu menciptakan ekosistem untuk mau belajar, menciptakan pengalaman yang kontekstual, dan menciptakan rasa keingintahuan yang besar (curiousity). Pengalaman tersebut tentu tidak lepas dari tujuan pembelajaran yang ditargetkan.

Tujuan pembelajaran selama ini dimaksudkan agar siswa menguasai materi yang diberikan. Pemberian materi di sekolah diatur dalam alokasi waktu sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sebuah kurikulum.

Sebagian besar dari alokasi waktu tersebut dihabiskan oleh pendidik untuk menyampaikan materi. Tanpa kita sadari, jalannya pembelajaran di sekolah mengarahkan siswa mendengarkan materi dibandingkan menguasai materi. Ditambah dengan kondisi pandemic yang melanda, membuat pengajar dan peserta didik dibuat tercengang menghadapi persoalan ini.

Kondisi pandemic membuat bidang Pendidikan harus terus beradaptasi. Mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru tentu memerlukan waktu dan proses adaptasi. Guru, dosen, dan peserta didik tentu memerlukan proses adaptasi untuk menyesuaikan proses pembelajaran dari metode konvensional ke metode virtual.

Proses adaptasi perubahan pembelajaran ini menuntut kesiapan dari para pengajar dan semua peserta didik di sekolah. Dituntut untuk tidak hanya memiliki PCK (Pedagogical Content Knowledge).

Tetapi dibutuhkan juga satu aspek tambahan yaitu technological knowledge. Guru maupun dosen telah terbiasa melaksanakan pembelajaran secara konvensional melalui layanan klasikal di ruang kelas. Untuk mengubah pembelajaran menjadi hidup dan terarah serta tercapainya tujuan pembelajaran dibutuhkan metode yang “pas”.

Metode flipped classroom bisa mengalihkan siswa dalam memahami materi dan guru bisa lebih kreatif dalam menjalani proses pembelajaran. Flipped classroom adalah sebuah metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Jonathan Bergmann & Aaron Sams yang kemudian dipadukan dengan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan untuk meningkatkan efektivitas perolehan hasil belajar. Flipped classroom juga diartikan sebagai perubahan transisi dari tradisional ke dalam bentuk media.

Flipped Classroom memberikan dampak bagi pengajar maupun peserta didik baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dampak diantanya seperti: mengubah peran pengajar dan peserta didik, pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan, peserta didik memiliki kepercayaan diri dan keterlibatan pembelajaran lebih tinggi.

Dengan demikian, metode Flipped Classroom diharapkan bisa menjawab permasalahan pembelajaran yang terjadi.

*Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

*Dosen Universitas Mathla’ul Anwar

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here