LEBAK, TUNTASMEDIA.COM — Minimnya literatur ilmiah mengenai arsitektur vernakular Banten mendorong Risa Rahmawati, seorang peneliti muda dari Yayasan Guriang Tujuh Indonesia, untuk menerbitkan buku berjudul Sulah Nyanda.
Peluncuran buku yang mengkaji arsitektur tradisional masyarakat Baduy ini digelar di Amphiteater Guriang Indonesia, Warunggunung, Kabupaten Lebak, Jumat (31/7), sebagai penutup program Dana Indonesiana kategori Kajian Objek Budaya.
Risa menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari kegelisahannya melihat minimnya penelitian mengenai arsitektur lokal. Ia menegaskan bahwa rumah tradisional Baduy bukan sekadar struktur fisik, melainkan representasi cara hidup yang berlandaskan nilai adat dan keselarasan dengan alam.
“Banten memiliki khazanah arsitektur yang sangat kaya dan kuat sebagai identitas budaya. *Sulah Nyanda* menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari cara hidup masyarakat Baduy karena di dalamnya tersimpan filosofi hidup yang berpijak pada nilai-nilai adat,” ujar Risa.
Lebih lanjut, Risa mengungkapkan harapannya agar hasil pendokumentasian ini tidak berhenti di lembaran buku saja. Ia berharap karya ilmiah tersebut mampu menjadi landasan kuat agar *Sulah Nyanda* dapat diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Provinsi Banten.
Acara peluncuran tersebut diisi dengan pembacaan kritis oleh sejarawan Banten Dadan Sudjana dari perspektif sejarah kebudayaan, serta arsitek Junita Bahari Nonci melalui pendekatan arsitektur vernakular.
Kehadiran karya ini dinilai menjadi pengingat penting bahwa pelestarian budaya membutuhkan dokumentasi tertulis yang kuat agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.(*)
Redaktur: Rizal Fauzi
Reporter: Zied























