Musim Penghujan, Dinkes Pandeglang Ingatkan Ini Kepada Masyarakat

0
23

MEMASUKI musim penghujan, beberapa daerah di Kabupaten Pandeglang telah menjadi langganan banjir.

Menanggapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang mewanti-wanti masyarakat potensi penyakit yang rentan muncul ketika terjadi banjir.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pandeglang, Dian Handayani mengatakan, bahwa berbagai penyakit yang biasa melanda ketika banjir yakni diare, Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA), hingga Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Yang pertama itu diare, kemudian ada ISPA, lalu penyakit kulit, serta leptospirosis. Lalu setelah airnya surut, biasanya banyak genangan dan biasanya disitu DBD mulai menyerang,” katanya, Jum’at (2/2/2024).

Dirinya menjelaskan, jika korelasi antara bencana banjir dengan kemunculan berbagai penyakit yang disebutkan.

“Penyakit diare, disebabkan oleh kondisi lingkungan di masyarakat Pandeglang yang belum terbilang sehat. Kemudian, pasokan air bersih juga ikut tercemar. Apalagi, arus banjir juga merendam titik-titik terkotor di lingkungan seperti jamban,” ungkap Dian.

“Nah kalau ISPA itu munculnya karena saat banjir dan musim hujan, udara akan menjadi lembab dan radiasi matahari rendah. Maka, patogen penyebab ISPA cepat berkembang. Kalau penyakit kulit jelas ya, meski tidak se-berbahaya penyakit lainnya, tentu hal tersebut tetap harus ditangani,” sambungnya.

Dian mengungkapkan bahwa, setelah banjir melanda akan banyak titik-titik genangan air. Hal tersebut, kata dia, yang kemudian menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab DBD.

Dian mengaku, bahwa pihaknya telah melakukan mitigasi dalam menghadapi serangan penyakit yang disebabkan banjir saat musim hujan.

“Tentu Dinkes sudah melakukan berbagai persiapan penanggulangan kejadian tersebut. Upaya kami dimulai ketika pra kejadian, dan tanggap darurat ketika kejadian,” ungkapnya.

Pada tahap pra kejadian, kata dia, Dinkes Pandeglang telah melakukan pemetaan pada kawasan yang berpotensi banjir sehingga bisa mengelola dan mengurangi resiko. Kemudian, tahap kedua yakni tanggap darurat atau ketika kejadian.

“Pada tahap ini Dinkes sudah menyiapkan segala sumberdaya yang dibutuhkan fasilitas berupa posko kesehatan dan tenaga manusia. Untuk masyarakat yang diungsikan kita akan melayani melalui posko. Namun, jika memang ada masyarakat yang menetap, kita yang akan jemput bola, bila perlu kita menyiapkan perahu karet,” terang Dian.

Dian menerangkan, jika berbagai penyakit yang muncul ketika banjir sebetulnya erat kaitannya dengan perilaku hidup masyarakat itu sendiri.

Ketika pola hidup masyarakat yang menyebabkan lingkungan kotor, lanjut Dian, akan akan diikuti kemunculan berbagai macam penyakit.

“Ada berbagai faktor penyebab munculnya penyakit. Dan lingkungan itu persentasenya 40 persen, yang tertinggi lah. Baru kemudian diikuti pola hidup, dan lain-lain,” ucapnya.

Dian menyebut, dampak penyakit yang ditimbulkan banjir bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Namun, pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk bisa mengurangi angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit tersebut.

“Sebetulnya, usaha itu harusnya ketika memang belum terjadi banjir. Yaitu, dengan cara masyarakat menjaga lingkungan agar tetap bersih,” ujarnya.

Redaktur : D. Sudrajat
Reporter : Asep

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here