Pemaknaan “Tahun B” dalam Tradisi Masyarakat Banten Tempo Dulu

0
122

Oleh: Abah Yadi*

DALAM khazanah tradisi spiritual masyarakat Banten, penanda waktu bukan hanya berfungsi sebagai sistem kalender, melainkan sebagai bahasa simbolik untuk memahami harmoni antara manusia, alam, dan jagad batin.

Salah satu penanda yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat desa pedalaman adalah istilah “Sibol Tahun B”—sebuah fase waktu yang dimaknai sebagai pertanda datangnya perubahan besar dalam siklus kehidupan.

“Sibol” dalam pemahaman lokal sering dikaitkan dengan kata mbol atau metu, yang berarti muncul, tumbuh, atau bangkit. Ia adalah pertanda munculnya sesuatu yang sebelumnya tersembunyi: biji yang tumbuh dari tanah, cahaya yang bangkit dari kegelapan, atau ilham yang lahir dari keheningan tapa.

Sementara itu, “Tahun B” bisa ditafsirkan sebagai simbol dari siklus kedua dalam rotasi pancawara, pasaran, atau bahkan sengkalan spiritual Jawa. Huruf “B” dapat melambangkan “Betaljemur adhi luwung”, sebuah frasa dalam kawruh basa Jawa kuno yang berarti jiwa yang mulai menempa diri dalam panas kehidupan demi mencapai kematangan batin.

Dalam tafsir yang lebih kontemporer, Tahun B dianggap sebagai tahun “babat alas”, yakni tahun untuk merintis, membersihkan, dan memulai sesuatu yang baru namun berat.

Dalam praktiknya, masyarakat Banten memaknai “Sibol Tahun B” sebagai saat yang tepat untuk memulai laku prihatin. Di desa-desa lereng gunung atau bukit, misalnya, para pinisepuh akan menandai datangnya “Sibol Tahun B” dengan tirakatan dan sesaji sederhana: tumpeng berisi “sekul abang-putih, ingkung ayam jantan“, dan “kembang pitungwarna“.

Mereka memohon kepada Sang Hyang Widhi agar dibukakan jalan bagi anak-cucu agar mampu menempuh babakan anyar dalam hidupnya dengan selamat.

Kosmologis Banten

Dalam bayangan kosmologis Banten, “Sibol Tahun B” adalah tahun ketika kamulyan belum tiba, namun kahanan mulai bergerak. Tahun ini penuh ujian, namun juga kaya potensi. Ibarat wayang, ini adalah saat ketika tokoh utama baru saja keluar dari padepokan dan mulai menyusuri jagad palagan—belum mencapai kemenangan, namun telah memulai perjalanan agungnya.

Bagi masyarakat Jawa yang hidup selaras dengan alam dan tanda-tandanya, “Sibol Tahun B” bukan sekadar hitungan waktu, melainkan panggilan untuk menata diri, memperkuat batin, dan menjaga keseimbangan antara raga, rasa, dan rasa jagad.

Dalam senyap malam dan nyala dupa di sudut rumah, “Sibol Tahun B” dikenang sebagai masa yang tidak mudah, namun justru karena itu, ia mulia.

*Pegiat Sejarah dan Perawat Manuskrip