LEBAK, TUNTASMEDIA.COM – Jarak yang kian lebar antara pemerintah dan masyarakat Kabupaten Lebak akhirnya memicu gelombang kritik. Minimnya ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi membuat kebijakan publik terkesan berjalan sepihak tanpa mendengar jeritan di akar rumput.
Merespons keresahan ini, Rangkasbitung Corner kembali menggelar diskusi publik bulanan dengan tema yang cukup menyengat: “Lebak Ruhay”. Forum ini menjadi panggung terbuka untuk membedah, menguliti, sekaligus mempertanyakan ke mana sebenarnya arah pembangunan Kabupaten Lebak di bawah visi-misi pemerintah saat ini.
Dede A. Majid, Ketua Program Rangkasbitung Corner sekaligus Sutradara Teater Guriang Indonesia, tidak menampik adanya sumbatan komunikasi antara penguasa dan rakyat.
“Hari ini terasa ada jarak antara masyarakat dengan pemerintah. Banyak pertanyaan yang muncul terhadap pemerintahan hari ini, tetapi masyarakat tidak selalu memiliki ruang untuk bertanya,” ujar Majid.
Bukan sekadar obrolan warung kopi, diskusi ini langsung menghadirkan para pemantik dari berbagai lini untuk membedah makna “Lebak Ruhay” dari sudut pandang birokrasi, hukum, politik, hingga gerakan mahasiswa.
Mereka yang hadir di antaranya Sekretaris Dispora Lebak Nevi Pahlevi, praktisi hukum Acep Saepudin, dosen ilmu politik UNIBA Try Adi Bangsawan, Ketua GMNI Lebak Musail Waedurat, dan Ketua IMALA Lebak Ridwanul Maknunah.
Diskusi yang dipandu oleh Nedi Suryadi dari Sandekala Institut akan berlangsung dinamis. Warga yang hadir dapat memanfaatkan momen ini untuk melempar kritik pedas dan mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Menurut Majid, esensi demokrasi akan mati jika hanya diingat saat pemilu. Demokrasi yang sehat harus dirawat lewat tradisi mengkritisi kebijakan secara rasional. Karena itu, Rangkasbitung Corner sengaja didesain untuk mendobrak sekat antara pejabat, akademisi, aktivis, dan warga biasa.
Menariknya, kritik terhadap dinamika politik Lebak tidak hanya disampaikan lewat adu argumen, tetapi juga melalui seni. Dalam acara tersebut, Majid akan membawakan monolog berjudul “Uwes Qorny”, sebuah produksi terbaru Teater Guriang Indonesia yang mengangkat sosok pendiri Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA).
Lewat balutan satire politik dan kritik sosial yang tajam, pertunjukan monolog bermaksud untuk menyentil realitas kebijakan publik saat ini. Kehadiran seni ini membuktikan bahwa kesadaran politik warga tidak harus selalu kaku di ruang seminar, tapi juga bisa dibakar lewat karya budaya.
“Sebagai forum rutin lintas disiplin ilmu—mulai dari budaya, hukum, hingga politik—Rangkasbitung Corner berkomitmen untuk terus merawat akal sehat publik,” tutur Majid.
Ia berharap, ruang dialog terbuka seperti ini bisa terus berjalan agar demokrasi di Lebak tidak sekadar menjadi prosedur formal di atas kertas, melainkan praktik nyata yang transparan dan bertanggung jawab. (*)
Redaktur: Rizal Fauzi























