PANDEGLANG, TUNTASMEDIA.COM – Di sudut-sudut kampung yang becek dan jauh dari riuh kantor pemerintahan, harapan akan tubuh yang tegak dan otak yang cerdas seolah sedang dipertaruhkan.

Program Satuan Tugas Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang seharusnya berdenyut dengan vitamin dan protein, belakangan dituding hanya menjadi deretan angka di atas kertas laporan yang rapi—sementara di lapangan, pengawasan terhadapnya sedang mati suri.

Narasi di Balik Meja 

Bukan rahasia lagi jika anggaran besar telah diketuk untuk memerangi stunting. Namun, di balik seremonial pembagian biskuit dan susu, ada aroma kelalaian yang menyengat. Pengawasan yang seharusnya menjadi mata bagi jalannya program, kini justru tampak buta. SPPG yang “nakal”—mereka yang memotong hak gizi atau memberikan kualitas pangan seadanya—seolah melenggang tanpa teguran.

Pengamat Kebijakan Publik dari Pandeglang Institute, Fajar Pratama, menatap tajam pada ketimpangan ini. Baginya, kegagalan pengawasan bukan sekadar masalah administratif, melainkan pengkhianatan terhadap masa depan.

“Kita sedang menonton sebuah sandiwara birokrasi,” ujar Fajar dengan nada getir.

“Anggaran gizi itu seperti air yang mengucur dari pusat, namun menguap di tengah jalan sebelum sampai ke mulut mereka yang lapar. Satgas yang seharusnya mengawasi justru terjebak dalam kenyamanan ruang ber-AC, sementara di pelosok, kualitas pangan tambahan sering kali tak lebih baik dari pakan ternak.”

Anggaran “Bancakan”

Fajar tak segan menyebut bahwa tanpa pengawasan yang berani, SPPG hanya akan menjadi “bancakan” bagi oknum yang gemar menari di atas penderitaan rakyat kecil. Data-data penerima yang acak-acakan hingga distribusi yang tersendat menjadi bukti sahih bahwa fungsi kontrol pemerintah daerah sedang pingsan.

“Jangan biarkan piring-piring anak Pandeglang tetap sunyi dari gizi hanya karena pengawasnya sibuk berswafoto di acara peresmian,” tambah Fajar.

Ia menggambarkan betapa ngerinya jika generasi mendatang tumbuh dengan fisik yang kerdil akibat kebijakan yang kerdil pula.

Menanti Ketegasan 

Menurut Fajar, di Pandeglang, di mana semangat juang seharusnya mendarah daging, lemahnya pengawasan ini adalah sebuah anomali.

“Masyarakat kini hanya bisa menanti: kapan mata-mata pengawas itu akan terbuka lebar? Kapan tangan-tangan yang menyimpang itu akan dipukul dengan sanksi tegas?” ujarnya.

Hingga senja jatuh di alun-alun Pandeglang, belum ada jawaban pasti dari para pemangku kebijakan. Yang tersisa hanyalah harapan yang kian kurus, sesekali dibalut janji-janji manis yang tak kunjung mengenyangkan. (*)

Redaktur: Rizal Fauzi

Reporter: Tb Agus Jaelandro