DARI masa ke masa, jumlah kekerasan pada anak mengalami eskalasi yang signifikan. Menurut sumber data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), selama 2022 hingga September 2022 terdapat 17.150 kasus kekerasan dengan jumlah korban perempuan 17.150 dan korban laki-laki sebanyak 2.729 orang.
Hal ini sejalan dengan kecenderungan peningkatan jumlah korban kekerasan seksual terhadap anak dan remaja Menurut KPAI terdapat 12 kasus kekerasan seksual di sepanjang Januari-Juli 2022 dengan rincian 3 (25 persen) kasus di lingkungan sekolah dalam wilayah Kemendikbudristek dan 9 (75 persen) di Kementrian Agama (Kemenag). Dari 12 kasus tersebut terdata 69 persen terjadi pada anak perempuan dan 31 persen pada anak laki-laki.
Kemenag sendiri telah mengeluarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) terkait penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di satuan Pendidikan Kementrian Agama pada 5 Oktober 2022 lalu. Sementara menurut Menteri PPPA komunikasi antara orang tua dan anak terkait kekerasan seksual wajib dilakukan secara komprehensif sehingga anak dapat terhindar dari konten berbahaya serta konsekuensinya.
Sejalan dengan hal tersebut, para ahli psikologi menekankan pentingnya peran serta dunia Pendidikan dalam pencegahan kekerasan seksual di kalangan remaja.
Mendukung pendapat serta kebijakan yang progresif di atas, tim pengabdian masyarakat dari program studi Ilmu Komunikasi UPN Jawa Timur menggencarkan literasi dan edukasi terkait pentingnya pemahaman kesehatan reproduksi sebagai pencegahan kekerasan seksual pada remaja putri di SMPIT Al Uswah Surabaya tahun 2022. Kegiatan ini diikuti remaja putri kelas IX sejumlah kurang lebih 50 siswi serta para guru dan wali kelas pendamping.
Tim pengabdian yang terdiri dari Roziana Febrianita, Augustin Mustika Chairil, serta Latif Ahmad Fauzan menyampaikan terlebih dahulu materi terkait kesehatan reproduksi remaja perempuan serta macam-macam gangguan dan penyakit yang akan diderita jika tidak dilakukan pencegahan dan menjaga Kesehatan reproduksi diri sendiri.
Pemaparan materi dilanjutkan dengan permasalahan dalam lingkup Kesehatan reproduksi remaja perempuan, yakni meningkatnya kelahiran pada usia remaja serta kekerasan dan/ pelecehan seksual pada remaja putri.
Kegiatan pengabdian diselingi dengan games ice breaking dan peserta yang memenangkan permainan diberikan hadiah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Acara dilanjutkan kembali dengan pelatihan pemanfaatan media digital sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi yang disambut dengan antusias tinggi para siswi dan ditutup dengan foto bersama.
Redaktur : D. Sudrajat
Penulis : Roziana Febrianita, Agustin Mustika Chairil, Latif A. Fauzan























