Adde Rosi : Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Jarang Naik ke Pelaporan

0
133

MARAKNYA kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak di Kabupaten Pandeglang, menjadi suatu persoalan serius yang perlu ditangani dengan payung hukum yang jelas. Dengan adanya perlindungan, maka korban kekerasan tersebut diharapkan lebih terbuka dan berani untuk melaporkan kasus tersebut.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Banten, Adde Rosi Khoerunnisa menyoroti kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan yang selama ini jarang naik ke pelaporan.

“Dikarenakan makin meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Banten umumnya, Khususnya di Kabupaten Pandeglang, saya selaku Ketua P2TP2A Provinsi Banten, melaksanakan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan sekolah. Ini kita lakukan, agar mencegah perilaku kekerasan baik itu secara fisik, psikis, ataupun seksual di sekolah,” ungkapnya kepada Tuntas Media, Rabu (16/11/2022).

Perempuan yang akrab disapa Aci ini menegaskan, dengan adanya Permendikbud No 82 Tahun 2015 tentang pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah, tertanam kesadaran pada korban kekerasan baik di rumah maupun di sekolah untuk segera melaporkan ke pihak berwajib.

“Permendikbud No 82 Tahun 2015 tentang pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah. Dan tadi kita lihat di salah satu sekolah di Kabupaten Pandeglang, terlihat kondusif. Namun tetap akan kita pantau dengan dibina dan kita jaga, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Aci berharap, peran serta masyarakat sebagai mitra keluarga diharapkan dapat memberikan pengawasan secara aktif terhadap korban kekerasan dan melaporkannya kepada pihak yang berwenang.

“Dengan adanya peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Pandeglang, berarti masyarakat sudah mulai berani untuk melaporkan. Karena memang selama ini yang menjadi permasalahan kami di pemerintahan, bahwa fenomena gunung es sering terjadi. Artinya yang dilaporkan atau yang muncul dipermukaan ini tidak sebanding dengan apa yang dilaporkan oleh masyarakat. Tetapi disisi lain saya merasa khawatir dan miris, bahwa ternyata dengan segala macam permasalahan yang ada di masyarakat masih sangat banyak terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ucap Aci.

Aci menuturkan, dengan adanya koordinasi yang baik antara forum masyarakat dan lembaga Pemerintah, dapat memberi motivasi bagi para korban kekerasan agar mau membuka diri. Sehingga, secepatnya diberikan assessment dan perlindungan terhadapnya.

“Saya sebagai anggota Komisi III DPR RI yang bermitra dengan Polri, mengharapkan pihak Polres Pandeglang untuk terus melaksanakan sosialisasi, pemantauan, dan juga pencegahan di setiap sekolah agar tidak terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta aksi tawuran. Intinya semua pihak terkait untuk terus membantu, agar anak-anak kita ini fokus belajar dan tidak melakukan tindakan yang tidak diharapkan,” imbuhnya.

“Kalau untuk pelaku sendiri, sudah jelas ya hukuman apa yang pantas sesuai undang-undang yang baru, yaitu Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang makin mempersempit ruang lingkup untuk para pelaku kekerasan tersebut,” ujarnya.

Redaktur : D. Sudrajat
Reporter : Asep

Facebook Comments