PEMBELAJARAN Sejarah di sekolah – sekolah seringkali fokus terhadap tokoh-tokoh nasional sehingga kerap melupakan tokoh-tokoh lokal yang berperan dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Hal itu membuat pelajar tidak mengenal tokoh seperti KH Brigjen Syam’un, KH Ahmad Khatib, Yusuf Martadilaga, KH Abdul Hadi, Fatah Hasan, Nyimas Gamparan dan tokoh-tokoh lainnya.

Latar belakang itulah yang mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten melalui UPT Museum Negeri Banten menggandeng Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Banten dalam Seminar Sejarah Banten.

“Harapannya tokoh-tokoh lokal, pejuang-pejuang kemerdekaan dari Banten bisa dikenal oleh para pelajar. Selama ini kita hanya mengenal Soekarno, Hatta, Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Jenderal Soedirman dan lain-lain. Ternyata para pejuang dari Banten pun sangat banyak sekali yang selama ini tidak pernah hadir di kelas-kelas,” ungkap Kepala Dinas Dikbud Provinsi Banten, Tabrani, Senin (15/02/2021).

Senada diungkapkan Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Provinsi Banten, Bara Hudaya. Ia menjelaskan seminar sejarah dan budaya Banten tersebut adalah kegiatan berkesinambungan atau berseri. Seri pertama bersama Prof. Nina Herliana membahas tema “Sejarah Banten Membangun Tradisi dan Peradaban”. Sementara seri kedua hingga kelima bekerjasama denga AGSI Banten.

“Ada 4 seminar yang dikerjasamakan dengan AGSI yang akan membahas mengenai sejarah Banten yang digelar setiap Senin dan Kamis pukul 13.00 s.d selesai. Tema pertama “Sejarah Terbentuknya Provinsi Banten dan Reformasi Indonesia” bersama Dr. Saefudin, M.Si dan Abdul Somad, SS.,M.Pd. yang kedua “Tokoh-tokoh Pejuang Kemerdekaan di Banten” bersama Mufti Ali, Phd dan Ganda Yanuar, S.Pd,” katanya.

Di tempat yang sama, Wakil Sekretaris AGSI Banten, Ganda Yanuar mengapresiasi Seminar Sejarah Banten kerjasama Dinas Dikbud dan AGSI.

Menurutnya, selama ini guru-guru sejarah kesulitan mencari referensi sejarah tokoh lokal. Karena keterbatasan menggali dari sumber primernya yang sebagian besar data-data tersebut ada di Belanda dan berbahasa Belanda.

“Sumber pembelajaran kita hanya buku-buku teks sehingga butuh para sejarawan untuk menggali sejarah tokoh-tokoh lokal tersebut. Seminar ini, dengan narasumber yang mumpuni di bidang sejarah,  akan sangat membantu guru-guru mengenalkan tokoh pejuang kemerdekaan dari Banten,” ujarnya.

Untuk diketahui, Seminar Sejarah Banten tidak hanya dilaksanakan secara secara daring, namun juga dengan protokol kesehatan yang ketat. Peserta dibatasi hanya 10 orang. Sementara untuk peserta daring melalui aplikasi zoom meeting, di halaman Facebook dan Instagram Museum Negeri Banten.

Reporter: Fauzi

Redaktur: Dendi S

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here