SERANG, TUNTASMEDIA.COM – Di sela riuh rendah gema selawat yang membelah malam di Kecamatan Walantaka, Sabtu akhir Januari lalu, Masjid Assa’adah tampak bersolek. Di Kelurahan Lebakwangi, bangunan yang fondasinya telah dipacak sejak 1933 itu bukan sekadar tumpukan bata dan semen. Bagi warga setempat, ia adalah monumen ingatan—sebuah warisan para sesepuh yang kini sedang disempurnakan oleh tangan-tangan muda.

Malam itu, 31 Januari 2026, Gubernur Banten Andra Soni hadir di tengah kerumunan warga. Tak ada sekat yang kaku. Di bawah lampu temaram yang memayungi halaman masjid, ia menyaksikan bagaimana sebuah komunitas merawat identitasnya melalui gotong royong.

“Ini menandakan betapa kompaknya warga,” ujar Andra, nadanya menyiratkan kekaguman.

Bagi Andra, renovasi Assa’adah adalah anomali yang manis di tengah gerusan individualisme perkotaan. Ia melihat anak-anak muda mengambil alih tongkat estafet dari para tetua, mengaduk semen dan menyusun bata demi sebuah tempat sujud yang lebih layak. Meski progres fisik baru menyentuh angka 80 persen setelah tujuh bulan pengerjaan, aura keberhasilan sudah terasa kental.

Di podium yang bersahaja, sang Gubernur menyelipkan pesan yang lebih dalam dari sekadar urusan arsitektur. Ia ingin masjid kembali ke khitahnya: menjadi poros gravitasi sosial.

“Masjid bukan sekadar bangunan fisik, tetapi tempat penguatan hubungan kita kepada Allah sekaligus sarana membangun hubungan sosial,” ucapnya.

Di matanya, masjid adalah laboratorium karakter tempat generasi muda—para remaja masjid yang ia puji malam itu—ditempa menjadi pribadi yang kreatif dan berdaya saing.

Wahyudin, Ketua Panitia yang mewakili suara anak muda Lebakwangi, berdiri dengan raut wajah lega namun tetap mawas. Tujuh bulan pengerjaan bukanlah waktu yang singkat bagi mereka yang mengandalkan kemandirian. Baginya, kehadiran Gubernur adalah suntikan moral, apalagi disertai bantuan dana segar sebesar Rp50 juta dari kantong pemerintah provinsi dan Rp10 juta dari UPZ Baznas Banten.

Malam itu, peresmian renovasi tersebut berkelindan dengan peringatan Isra Mi’raj. Sebuah simbol perjalanan spiritual yang selaras dengan upaya warga Lebakwangi: bergerak naik, memperbaiki diri, dan mempererat saf. Saipulloh Jueng, sang penasihat remaja masjid, menutup malam dengan syukur yang ringkas.

Baginya, tembok-tembok Assa’adah yang baru adalah bukti bahwa jika warga sudah berhimpun, mimpi setua tahun 1933 pun bisa tegak kembali dengan gagah.(*)

Redaktur: Rizal Fauzi