Tingginya Kasus Stunting di Pandeglang Dapat Perhatian Organisasi Aisyiyah

0
2779

KASUS stunting di Kabupaten Pandeglang masih cukup memprihatinkan. Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang, Eniyati mengatakan, berdasarkan data stunting dari E-PPGBM menunjukkan 8.000 anak yang menderita stunting yang tersebar di semua kecamatan. Namun yang menjadi lokus intervensi oleh pemerintah pusat terdapat di 10 desa.

“Harapannya sesuai dengan target pusat yang ingin menurunkan 19 persen mudah-mudahan Pandeglang bisa mengikuti. Dengan semua elemen diturunkan untuk membantu program ini di Kabupaten Pandeglang, mudah-mudahan ini bisa dan OPD terkait juga bersama-sama melakukan konvergensi aksi cegah stunting semua kegiatan diprioritaskan untuk Kasi Cegah Stunting mudah-mudahan lima tahun kedepan bisa terlihat penurunannya,” terang Eniyati, saat menghadiri pelatihan dan penguatan kapasitas bagi puluhan kader Aisyiyah di salah satu hotel di Pandeglang, Selasa (12/11/2019) malam.

Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Herawati sangat mengapresiasi dengan komitmen Aisyiyah terhadap kepedulian kesehatan anak dan ibu, khsusunya dalam pencegahan stunting di Indonesia. Sebab, upaya pencegahaan stunting tidak bisa dilakukan oleh pemerintah, tetapi memerlukan peran aktif dari semua pihak.

“Jadi memang stunting ini tidak bisa dikerjakan oleh Kemenkes saja, tapi harus ada campur tangan semuanya. Karena berdasarkan data Kemenkes itu hanya bisa menyelasaikan 30 persen oleh orang kesehatan, tapi di luar kesehatan 70 persen,” bebernya.
Dirinyaberharap, kader Aisyiyah yang telah diberikan pengetahuan tentang upaya pencegahaan stunting bisa memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak. Karena menurutnya, upaya pencegahan penyakit gagal tumbuhkembang pada anak ini tidak mudah karena harus mengubah perilaku masyarakat agar peduli pada kesehatan.

“Untuk penyebab stunting itu banyak faktor, tapi yang lebih utama itu dari gizinya. Tetapi tidak dipungkiri pola asuhnya, sanitasi seperti apa? Sanitasi itu harus jamban sehat, air bersih, dan kemudian gizi itu harus cukup. Jadi gizi itu mulai dari dia hamil kemudian melakukan imunisasi penyusuan dini, bagaimana dia memberikan ASI-nya, bagaimana doa memberikan makanannya. Setelah enam bulan itu pemberian makan bayi dan anak, kemudian dia harus pantau tumbuhkembang anaknya. Jadi kalau tidak dipantau petugas kesehatan tidak bisa memberi masukan harus makan ini, makan ini, jadi itu pentingnya memantau pertumbuhan anak,” beber dia.

Ketua Majelis Kesehatan Aisyiyah Pusat, Chairunnisa mengungkapkan, dipilihnya Kabupaten Pandeglang sebagai lokus pencegahan stunting, karena berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka penyandang atau penyitas stunting di Pandeglang ini paling tinggi di Indonesia.

“Aisyiyah ini kami sebagai organisasi perempuan di Muhammadiyah, kami memang punya perhatian kepada kesehatan anak dan ibu, kalau sekarang kita bicara tentang pencegahaan stunting,” ujar Chairunnisa.

Chairunnisa menambahkan, setidaknya ada 25 kader yang berasal dari 10 Desa yang menjadi lokus pencegahaan stunting, untuk dilatih, sehingga diharapkan bisa mengimplementasikan ilmu yang didapatnya selama pelatihan.

Redaktur : Ari Supriadi
Reporter : Andre Sopian

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here