Mantap, Siswa SMKN 2 Pandeglang Kembangkan Pertanian Hidroponik

0
1323

SMKN 2 Pandeglang, Banten, yang memiliki delapan program keahilan, sejak beberapa tahun terakhir mulai mengembangkan pertanian dengan metode hidroponik atau dengan media tanam air. Jenis tanaman yang ditanam dengan metode hidroponik, seperti kangkung (ipomoea reptana), selada air (lactuca sativa), dan bayam merah (amaranthus gangeticus).

Kepala SMKN 2 Pandeglang, Ade Firdaus ketika meninjau ruang media tanam hidroponik, Rabu (14/03/2018) pagi mengatakan, dibangunnya media tanam hidroponik untuk menunjang praktik siswa pada program keahlian holtikultura dan pengolahan hasil panen.

“Kita ini kan (pertanian dengan hidroponik, red) untuk pelatihan siswa, karena pertanian itu bukan hanya pertanian manual tetapi pertanian yang kita kembangkan adalah pertanian berteknologi, salah satunya yang kita kembangkan adalah hidroponik,” terang Ade Firdaus.

Ia menjelaskan selain pertanian hidroponik, sekolahnya juga mengembangkan jenis tamanan lain, seperti anggrek, pisang cavendish (musa acuminata) serta tanaman holtikultura lainnya.

Diharapkan para siswa selain mendapat ilmu di kelas dan juga mengembangkannya melalui praktik di areal pertanian sekolah. Ke depan, setelah lulus mereka diharapkan mampu menerapkan teknologi pertanian tersebut di tengah masyarakat.

“Ya mudah-mudahan nanti mereka terjun ke masyarakat bisa menanam sayur-mayur di area perkarangan dengan metode hidroponik. Di sini kita tanam ada kangkung, bayam merah, selada dan jenis tamanan sayuran lainnya yang dibutuhkan masyarakat,” beber dia.

Ade menjelaskan, produksi pertanian hidroponik memiliki keunggulan dibanding dengan metode konvensional. Tamanan yang ditanam melalui metode hidroponik dipastikan bebas dari pestisida dan hanya diberikan air yang mengandung nutrisi.

“Kalau penanaman biasa kan ada pestisida dan di kita bebas pestisida, karena hanya diberi air yang mengandung nutrisi jadi lebih sehat, higienis, dan lebih aman,” sambungnya.

Ditanya soal hasil dari tamanan hidroponik, Ade menjelaskan, karena baru tahap awal, hasilnya baru dikonsumsi untuk di internal sekolah. Namun ke depan ditargetkan produksi sayuran ini bisa dijual ke masyarakat.

“Alhamdulillah sekarang hasilnya sudah terlihat cukup bagus, dibanding dengan percobaan yang pertama kemarin,” lanjutnya.

Setelah dikembangkan metode hidroponik, pihaknya juga akan mengembangkan program pengembangan kultur jaringan. Artinya pengembangbiakan melalui kultur jaringan, salah satunya adalah pisang cavendish dan anggrek.

“Kita juga sering diundang, baik oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk mengisi pameran, salah satunya pameran Hipmi di Tangerang yang dibuka oleh Bapak Presiden (Joko Widodo, red),” pungkas Ade.

Sementara, siswa Kelas XII Program Keahlian Pertanian, Entus Munadi mengaku, awalnya cukup sulit menanam dengan metode hidroponik. Namun, setelah dilakukan praktik berulang-ulang menjadi terbiasa dan cukup berhasil.

“Ini lagi memeriksa pertumbuhan tanaman. Jika ditemukan ada hama, seperti ulat, kita semprot dengan bahan organik,” ujar dia.

Redaktur : Dendi
Reporter : A Supriadi

Facebook Comments