Penulis: Nita Novita, dr., Sp.PA (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran)
SALAMA ini masyarakat cukup mengenal dan berhubungan dengan dunia kesehatan maupun kedokteran. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa profesi dokter terdiri dari dari berbagai bidang spesialisasi. Ada dokter anak, dokter kandungan, dokter saraf, dokter mata, dokter bedah, dan yang lainnya.
Pemeriksaan di bidang pelayanan kesehatan pun banyak jenisnya, dari pemeriksaan laboratorium untuk darah, urin, feses dan cairan tubuh; pemeriksaan radiologis seperti Ronsen, USG, CT-scan dan sebagainya.
Namun, ada pemeriksaan penunjang yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat luas yaitu pemeriksaan patologi anatomi yang ahlinya disebut sebagai dokter spesialis patologi anatomi.
Patologi anatomi merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada evaluasi terhadap perubahan struktur jaringan dan sel untuk menegakkan diagnosis penyakit.
Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter spesialis patologi anatomi dengan menganalisis sampel yang berasal dari jaringan atau organ. Tujuan utama pemeriksaan ini untuk mengidentifikasi proses penyakit, baik akibat peradangan, infeksi, degeneratif, maupun tumor baik jinak atau atau ganas sehingga dapat membantu para klinisi dalam menegakkan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat.
Analisis pemeriksaan dilakukan melalui penilaian secara makroskopik (melihat secara langsung dengan mata telanjang) untuk menilai ukuran, bentuk, warna, konsistensi, dan batas kelainan.
Setelah itu pengamatan sampel menggunakan mikroskop setelah diproses dengan berbagai metoda pengambilan dan penanganan sampel. Pemeriksaan yang dilakukan diantaranya adalah pemeriksaan secara histopatologi.
Pada pemeriksaan ini sampel berasal dari jaringan atau organ yang didapat melalui biopsi, operasi, dan prosedur lainnya serta pemeriksaan sitologi dengan sampel yang berasal dari cairan tubuh atau jaringan yang didapat dengan cara melakukan apusan (swab).
Pada pemeriksaan histopatologi, jaringan yang diambil diproses melalui fiksasi menggunakan larutan tertentu, pemotongan tipis, dan pewarnaan (umumnya dengan hematoksilin-eosin) untuk diperiksa secara mikroskopik.
Pada tahap mikroskopik, dokter patologi anatomi menilai pola dan gambaran jaringan dan karakteristik sel, termasuk adanya perubahan bentuk, ukuran serta kelainan lain.
Selain melakukan pemeriksaan rutin, patologi anatomi juga dapat melibatkan teknik pemeriksaan khusus seperti imunohistokimia, yang menggunakan antibodi khusus untuk mendeteksi protein tertentu pada sel.
Teknik ini sangat membantu dalam menentukan asal suatu tumor, membedakan jenis keganasan, serta menilai faktor perkiraan tingkat kesembuhan, mortalitas, penentuan terapi serta respon terapi.
Pada beberapa kasus, pemeriksaan molekuler juga dilakukan untuk mendeteksi mutasi genetik tertentu yang berpengaruh pada pilihan pengobatan, terutama pada kanker.
Pemeriksaan sitologi berfokus pada analisis sel secara individual atau kelompok kecil sel tanpa mempertahankan struktur jaringan secara utuh. Sampel dapat diperoleh dari cairan tubuh (seperti cairan pleura atau urin), kerokan (misalnya Pap smear), atau aspirasi. Keunggulan sitologi adalah prosedurnya relatif cepat, minimal invasif, dan biaya lebih rendah dibandingkan biopsi jaringan.
Meskipun demikian, karena tidak menilai arsitektur jaringan secara lengkap, pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa histopatologi untuk konfirmasi diagnosis.
Selain biopsi dan operasi melalui pembedahan dengan pisau, sampel pemeriksaan patologi anatomi dapat pula dilakukan dengan cara biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) atau fine needle aspiration biopsy (FNAB), yaitu teknik pengambilan sampel sel menggunakan jarum berukuran kecil yang dimasukkan ke dalam benjolan atau massa.
Prosedur ini sering digunakan untuk mengevaluasi nodul di leher, payudara, tiroid, atau kelenjar getah bening. Hasil aspirasi kemudian diperiksa secara sitologis untuk menilai adanya proses inflamasi, infeksi, atau keganasan. BAJAH memiliki kelebihan karena relatif aman, cepat, dan dapat dilakukan secara rawat jalan, namun pada beberapa kondisi mungkin diperlukan biopsi jaringan yang lebih besar untuk mendapatkan informasi diagnostik yang lebih lengkap.
Hasil pemeriksaan patologi anatomi dituangkan dalam bentuk laporan tertulis yang sistematis dan rinci. Laporan ini mencakup deskripsi makroskopik, deskripsi mikroskopik, serta kesimpulan diagnosis.
Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan klinis, seperti penentuan stadium kanker, kebutuhan terapi tambahan, atau evaluasi respons terhadap pengobatan.
Oleh karena itu, pemeriksaan patologi anatomi memegang peran sentral dalam praktik kedokteran modern, khususnya dalam bidang onkologi.(*)






















