SETELAH 10 tahun “menghilang”, Teater Balé Pandeglang kembali hadir dengan lakon “Pasar” yang dipentaskan pada Sabtu, 25 November 2023.

Alih-alih dipertunjukkan di amfiteater atau panggung, pentas teater itu digelar di halaman belakang Balé Budaya yang sehari-harinya biasa difungsikan sebagai lahan parkir.

Bersama Studio Tata Artistik SMKN 1 Pandeglang dan Pandeglang Creative Hub, Teater Balé Reborn berhasil menyulap halaman parkir menjadi panggung pertunjukan yang dipadati penonton dari berbagai lapisan masyarakat.

Salah satu adegan pementasan Teater Balé di Lapangan Parkir Bael Budaya

Pimpinan Produksi Teater Balé, Tirta N. Pratama mengapresiasi semangat para seniman muda yang menampilkan karya terbaiknya dengan sumber daya terbatas. Ia juga menyoroti ketiadaan gedung kesenian yang representatif di Pandeglang sebagai salah satu kendala yang perlu segera diatasi oleh pemerintah daerah.

“Semangat dan kerja kolektif para seniman untuk mempersembahkan pertunjukan di tengah keterbatasan ini perlu kita apresiasi. Meski begitu, pemerintah Pandeglang juga perlu memfasilitasi gedung pertunjukan yang representatif sebagai bentuk dukungan dan kepedulian pemerintah terhadap pengembangan seni dan budaya,” ungkap Tirta.

Meskipun sempat diguyur hujan seharian, hal tersebut tidak menghalangi antusias masyarakat yang sudah teramat rindu untuk menyaksikan tontonan teater. Halaman parkir yang basah dan becek pun tetap dipadati oleh para penonton.

Aktor-aktor Teater Balé tampak menghayati peran mereka dalam Lakon Pasar

Salah satunya Rizki, guru sekolah dasar di Kadudodol, Cimanuk menganggap pertunjukan teater sangat bermanfaat dalam membentuk mentalitas masyarakat. Ia juga mengapresiasi para pemain Teater Balé yang sebagian besar adalah pelajar sekolah.

“Selama di Pandeglang, baru kali ini nonton aksi teater anak-anak yang bisa seseru ini. Seru banget. Di luar ekspektasi,” ungkap Rizki yang datang dari Cimanuk untuk menonton.

Lakon “Pasar” menarasikan pentingnya sikap kritis terhadap isu hoaks dan berita bohong. Pertunjukan yang diadaptasi dari naskah “Gosip” karya Tatang Trimahroji yang merupakan salah satu tokoh pendiri Teater Balé.

“Lewat lakon Pasar, kami mencoba mengajak penonton untuk merefleksi diri dari peristiwa yang ada di sekitar. Kebetulan penulisnya adalah guru teater kami di Teater Balé. Pertunjukan ini juga untuk menyalurkan rasa rindu dan penghormatan kami untuk beliau,” ungkap Ifan Sandekala, sutradara pertunjukan.

Ifan menambahkan, saat ini mereka mencoba memberikan semangat baru lewat kreasi dan inovasi di Teater Balé Reborn. Saat ini, Teater Balé digerakkan oleh para generasi muda yang sebagian besar merupakan pelajar dari sekolah menengah di Pandeglang.

Sebagai bentuk konsistensi Teater Balé dalam memasyarakatkan teater, komunitas yang aktif menghidupkan seni pertunjukan di Balé Budaya Pandeglang tersebut akan mengadakan agenda rutin.

“Agenda selanjutnya akan ada kelas menulis, kelas artistik, dan studi panggung. Teater Balé juga terbuka untuk masyarakat yang ingin belajar studi peran,” tutup Ifan Sandekala.

Senada diungkapkan Pendiri Teater Balé, Ajat Sentana. Menurut Ajat, kesadaran akan pentingnya teater sebagai pembentuk mentalitas masyarakat juga disadari oleh para penonton yang berharap pertunjukan teater dapat lebih sering ditampilkan di Pandeglang. Sebagian penonton berharap pertunjukan teater dapat ditampilkan setidaknya tiga kali dalam setahun.

“Teater itu penting untuk mentalitas, khususnya jika sejak dini dipaparkan ke anak-anak. Teater bisa membentuk mentalitas anak-anak, mentalitas bangsa kita,” ungkap Ajat.

Redaktur: Dendi S

Reporter: Fauzi

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here